Tes SIM terasa berat, ini penjelasan polisi dan pengalaman Gen Z

Pengalaman Gen Z dalam Tes SIM dan Penjelasan dari Polisi

Banyak orang pernah mengalami kegagalan dalam ujian praktik SIM. Tidak jarang, mereka mendengar komentar seperti “kalau mau cepat, ya lewat jalur lain saja.” Bagi sebagian Gen Z, rintangan di sirkuit tes SIM terasa terlalu rumit dan tidak relevan dengan kondisi di jalan raya. Mereka merasa bahwa tes ini tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan berkendara yang sebenarnya.

Beberapa pengalaman nyata menunjukkan bahwa banyak pemuda muda menghadapi kesulitan saat menjalani tes SIM. Fawwaz (22) mengaku harus mengikuti tes tiga kali sebelum lulus. Dua kali gagal karena "angka delapan," yaitu rintangan yang membutuhkan keseimbangan dan ketepatan gerakan. Arya (21) juga mengungkapkan kesulitannya saat menghadapi rintangan yang sama. Ia menyebutkan bahwa putaran yang sempit membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Luki (21) juga mengeluhkan kesulitan dalam tes SIM. Ia mengatakan bahwa rintangan di sirkuit terasa lebih berat dibandingkan jalur resmi. Bahkan, ia merasa frustrasi karena ada orang di sekitarnya yang menyarankannya untuk menggunakan jalur lain agar lebih cepat.

Namun, tidak semua Gen Z merasa tes SIM tidak penting. Wafa (25), seorang aparatur sipil negara (ASN), menilai bahwa beberapa rintangan dalam tes SIM sangat relevan dengan kondisi jalan raya. Menurutnya, lintasan sempit dan manuver kecepatan rendah sangat berguna dalam situasi macet atau ruas jalan sempit di perkotaan.

Penjelasan dari Polisi tentang Fungsi Tes SIM

Menurut Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, proses pembuatan SIM melibatkan berbagai tahapan, mulai dari syarat usia hingga tes mata, pendengaran, emosi, dan kognitif. Proses ini bukanlah hal remeh, karena banyak kecelakaan disebabkan oleh gangguan penglihatan jarak dekat atau respons lambat di jalan.

Setiap rintangan dalam tes SIM memiliki fungsi konkret yang terkait langsung dengan keselamatan berkendara. Misalnya, rintangan "S" (yang mirip dengan angka 8 dan zig-zag) dilatih untuk melatih kontrol motor saat belok dan melewati jalur sempit. Tes ini sangat relevan untuk situasi seperti menyalip, masuk gang kecil, atau menghindari hambatan.

Tes U-turn atau tikungan tajam digunakan untuk mengukur stabilitas dan kemampuan rotasi stang. Erdi menjelaskan bahwa tes ini sangat berguna saat melakukan putar balik di jalan yang padat. Sementara itu, tes pengereman atau reaksi bertujuan untuk melatih respons pengereman secara mendadak dengan stabil. Ini sangat penting dalam situasi darurat, seperti saat pejalan kaki tiba-tiba menyeberang atau kendaraan di depan tiba-tiba berhenti.

Peningkatan kecepatan juga memiliki makna tertentu. Tes ini digunakan untuk mengecek pengendalian motor di kecepatan lebih tinggi serta kemampuan pengereman. Erdi menegaskan bahwa setiap rintangan dalam tes SIM dirancang untuk meniru kondisi jalan sebenarnya. Di dunia nyata, ada banyak gang kecil dan ruang sempit antara mobil-mobil, sehingga tes ini membantu pengendara bersiap menghadapi kondisi tersebut.

SIM Bukan Sekadar Kartu Izin

Dari obrolan dengan Gen Z, sebagian besar setuju bahwa tes SIM memang menantang dan sering membuat grogi. Namun, setelah mendengar penjelasan dari polisi, mereka mulai memahami logika dan esensi dari tes ini.

SIM bukan sekadar kartu izin. Menurut Erdi, SIM adalah bukti kemampuan berkendara. Jalan raya bukan tempat main, dan motor bukan hanya alat mobilitas, tetapi mesin yang butuh kontrol, fokus, dan tanggung jawab. Keterampilan berkendara adalah investasi keselamatan, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain yang berbagi jalan.

Erdi menekankan pentingnya mindset belajar yang benar. Para pengendara harus mempelajari materinya, berlatih secara serius, dan tidak pernah meremehkan prosesnya. Semakin kompeten seseorang dalam mengemudi, semakin kecil risiko terjadinya kecelakaan.

Pada akhirnya, keselamatan di jalan adalah hasil kerja sama antara pengendara yang terampil, aturan yang dipatuhi, dan penggunaan ruang jalan yang adil. Dengan demikian, tes SIM tetap menjadi bagian penting dalam memastikan keselamatan berkendara.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan