
Penjelasan Mengenai Kondisi Galbay di Tunaiku
Banyak peminjam pinjaman online (pinjol) merasa takut ketika tidak lagi mampu membayar cicilan. Namun, menurut edukator pinjaman online Singgih B Maulana, kepanikan justru bisa membuat masalah semakin rumit. Ia menjelaskan bahwa galbay atau gagal bayar di aplikasi Tunaiku sering disalahpahami oleh masyarakat.
Singgih menyampaikan bahwa galbay bukan berarti hidup berhenti. “Jangan panik, jangan stres. Hidup tetap jalan,” ujarnya dengan tegas. Ia menekankan pentingnya untuk tetap tenang dan tidak mengambil langkah yang lebih buruk akibat rasa takut.
Tunaiku adalah layanan pinjaman online resmi yang dikelola oleh PT Bank Amar Indonesia. Karena berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seluruh mekanisme penagihan dan pengelolaan data tunduk pada aturan yang jelas dan transparan.
Risiko Galbay di Tunaiku
Singgih membeberkan bahwa risiko galbay di Tunaiku tidak terlalu berat. Ada tiga hal utama yang bisa terjadi: catatan di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, skor kredit yang menurun, dan kemungkinan didatangi Debt Collector (DC) lapangan. “Tidak ada yang lain. Tidak ada penjara, tidak ada hal mistis,” tegasnya.
Ia juga menyoroti mentalitas sebagian peminjam yang terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang demi menjaga status lancar. Menurutnya, hal ini justru memperparah kondisi finansial. “Kalau sudah tidak sanggup bayar, jangan nambah hutang. Fokus kerja, fokus usaha,” katanya.
Penagihan oleh Debt Collector
Soal penagihan oleh DC lapangan, Singgih mengingatkan agar nasabah tidak merasa lebih rendah. Meskipun penagihan boleh dilakukan, cara yang digunakan harus beradab dan tidak melanggar hukum. Jika ada ancaman atau kekerasan, jalur hukum adalah hak nasabah.
“Nasabah itu raja. Harus dihormati,” tegasnya. Ia menekankan bahwa nasabah memiliki hak untuk melawan jika terjadi pelanggaran.
Pandangan Jangka Panjang Mengenai Hutang
Singgih juga mengajak peminjam untuk melihat hutang secara jangka panjang. Meskipun skor kredit bisa memburuk, bukan berarti selamanya. Ketika kondisi ekonomi membaik, catatan tersebut bisa dipulihkan dengan pelunasan dan pengelolaan keuangan yang lebih sehat.
Pesan penting lain yang disampaikan adalah soal prioritas hidup. Dalam kondisi belum punya penghasilan tetap, kesehatan mental dan keberlangsungan hidup harus menjadi fokus utama. “Kalau ada uang, bayar. Kalau belum ada, ya fokus bangkit dulu,” tutup Singgih.
Relevansi Pandangan di Tengah Tekanan Ekonomi 2026
Pandangan ini dianggap relevan di tengah tekanan ekonomi 2026, ketika banyak orang masih berjuang menata ulang kondisi keuangan pasca krisis. Dengan pemahaman yang tepat, peminjam dapat menghadapi situasi sulit tanpa terjebak dalam rasa takut dan kepanikan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar