Tidak Perlu Banyak Harapan di Tahun 2026! Apa yang Dibutuhkan?

Harapan, Keyakinan, dan Percaya Diri di Tahun 2026


Kalender 2025 kini telah menjadi barang bekas, membawa sejumlah peringatan dan kenangan yang masih terasa. Kini kita memasang kalender baru, yaitu kalender 2026. Setelah agenda bakar-bakar di halaman rumah, mimpi, resolusi, dan harapan mungkin sudah kita tuliskan dalam angan-angan. Namun, bagaimana jika ternyata harapan itu tidak cukup untuk menjalani tahun ini?

Berapa banyak dari kita yang harapan mereka harus kandas di tahun 2025? Harapan untuk menikah, mendapatkan pekerjaan, membeli hunian, atau bahkan yang paling sederhana, harapan untuk tetap sehat secara finansial tanpa harus dibayangi cicilan pinjaman online. Manusia bisa hidup selama 12 jam tanpa makanan, tapi ternyata manusia tidak bisa hidup satu menitpun tanpa harapan.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa di Tahun 2026 ini, menyalakan harapan saja tidak cukup. Harapan bisa disandingkan dengan kata ekspektasi, kedua kata tersebut berada di bawah bendera sinonim. Semakin banyak ekspektasi, justru semakin besar kemungkinan kekecewaan.

Lantas, apa yang dibutuhkan untuk melangkah di 2026? Apakah kita harus menghilangkan semua harapan dan ekspektasi untuk menjalani tahun ini? Ternyata tidak sefrontal itu. Menghilangkan harapan sama saja menghilangkan gairah dan semangat, sehingga harapan harus tetap ada. Namun, memiliki harapan saja tidak cukup. Di tahun 2026 ini, ada dua tombol yang perlu kita install dalam pikiran kita, yakni tombol percaya diri dan tombol keyakinan akan pertolongan Tuhan.

Suatu ketika setelah saya selesai menunaikan shalat Jumat, mata saya terhipnotis oleh sebuah booth bertuliskan "ES KOPI Rp 6.000". Membaca tulisan tersebut tentu saja saya tidak membutuhkan analisis ekonomi untuk membelinya. Harga Rp. 6.000 untuk sebuah kopi yang dijajakan di pinggir jalan tentu saja termasuk dalam daftar kopi murah, mengingat harga es kopi kekinian bisa tembus lebih dari Rp. 10.000/cup.

Singkat cerita, setelah saya mendatangi booth tersebut dan memesan sebuah es kopi, mata saya terkaget dengan apa yang dilakukan oleh sang penjaja. Di mana penjual tersebut justru mengambil Kopi Sachet Good Day Capucino lalu menyeduhnya di gelas plastik. Tak lupa es kristal, kental manis, dan susu UHT Diamond yang bercampur di dalam cup kopi pesanan saya.

Ketika mengetahui bahwa kopi yang digunakan adalah kopi capucino kemasan sachet, saya sempat berkata "anjir" dalam hati. Lalu saya berusaha menghilangkan kata "anjir" yang sudah telanjur saya ucapkan dalam diam. Saya justru tertampar sebuah kenyataan, bahwa apa yang dilakukan oleh penjaja es kopi enam ribuan tersebut memang tidak ada salahnya untuk dilakukan, apalagi di sekitar masjid tersebut kebanyakan adalah pelajar yang harus berhemat dalam urusan njajan, bukan eksekutif muda berdasi atau mahasiswa dengan iPhone 17 di saku.

Buru-buru saya menarik umpatan tersebut setelah berhasil mendapatkan kopi pesanan saya yang sebenarnya bisa saya buat sendiri di rumah. Kopi yang saya minum saat itu memang tidak perlu racikan barista bersertifikat atau tukang seduh yang hampir setiap hari bergelut dengan seduhan V60.

Apa yang dilakukan oleh penjaja es kopi tersebut merupakan bentuk rasa percaya diri dan keyakinan bahwa produknya memang memiliki pangsa pasarnya sendiri. Tentu tidak Apple to Apple membandingkan kopi tersebut dengan produk seperti kopi kenangan atau kopi tuku, tapi dari peristiwa ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran, bahwa dalam menjalani hidup ini, kita tidak perlu mengukur kaki kita dengan sepatu milik orang lain.

Kini kita berada di sebuah waktu, di mana orang bodoh yang memiliki rasa percaya diri tinggi, justru mendapatkan panggung daripada orang pintar yang tidak memiliki rasa percaya diri untuk sekadar membuat sesuatu.

So, wajib hukumnya bagi kita untuk meng-upgrade rasa percaya diri di tahun 2026. Rasa percaya diri bisa meliputi:
percaya diri memulai usaha
percaya diri berkenalan dengan orang tak dikenal
* percaya diri untuk menjadi pembicara di depan khalayak

Karena hidup ini tak hanya soal harapan, tetapi juga keberanian.

Belum selesai sampai di sini, hidup juga butuh keyakinan, tepatnya adalah keyakinan akan pertolongan Tuhan. Keyakinan bahwa ujian hidup tidak lebih sulit dari masalah yang sedang kita hadapi.

Selamat menyambut angka tahun yang baru, mari kita jaga harapan, latih rasa percaya diri, dan perbesar keyakinan akan pertolongan Tuhan. Kita tak pernah tahu kejutan apa di Tahun 2026.
Semoga kita dapat saling mendoakan, dan saling membantu dalam kebaikan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan