Tiga Bupati Aceh Serahkan Penanganan Banjir dan Longsor, Minta Bantuan Pusat

Tiga Bupati Aceh Serahkan Penanganan Banjir dan Longsor, Minta Bantuan Pusat

Tiga Bupati di Aceh Menyerah Hadapi Bencana Banjir dan Longsor

Tiga bupati di Aceh mengakui kesulitan dalam menangani banjir dan longsor yang terjadi akibat keterbatasan anggaran dan alat. Sementara itu, Bupati Aceh Timur masih bertahan, meski hanya dalam hitungan hari tanpa bantuan dari pemerintah pusat.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, menyampaikan bahwa tiga kabupaten lainnya telah menyerah dalam penanganan bencana ini. Ketiga bupati tersebut adalah Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Bupati Aceh Selatan Mirwan MS, dan Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi.

"Memang ada tiga kabupaten atau tiga bupati, teman saya yang mengangkat bendera putih ya, mereka dari Aceh Tengah, Aceh Selatan, kemudian Pidie Jaya," ujar Iskandar, Selasa (2/12).

Iskandar menjelaskan bahwa pihaknya masih berjuang memberikan bantuan kepada warga dengan menerobos banjir yang tak kunjung surut. Namun, ia menyatakan bahwa kesulitan besar dialami karena tidak memiliki alat berat dan anggaran yang terbatas.

"Walaupun daerah punya alat berat tapi kondisinya rusak berat, tidak bisa kita fungsikan. Kemudian dari sisi anggaran, tidak mungkin daerah yang punya anggaran BTT-nya hanya 2 miliar. Tapi saat ini seperti kondisi kami tersisa Rp800 juta," paparnya.

Iskandar juga menyatakan bahwa tanpa bantuan dari pemerintah pusat, dirinya akan segera menyerah dalam waktu dua hingga tiga hari.

"Kalau pemerintah pusat membiarkan kami berjuang sendiri di daerah, terus terang dua atau 3 hari lagi saya juga akan angkat bendera putih menyerah dengan kondisi ini," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kekurangan sumber daya membuat sulit untuk mencari solusi. "Ketika sumber daya yang kami miliki kurang, ke mana kami harus mengadu lagi? Kalau misalnya ada saran dari teman-teman BNPB gunakan kekuatan keuangan daerah, kekuatan keuangan yang mana kita gunakan?" katanya lagi.

Iskandar juga menjelaskan bahwa pihaknya tidak mungkin menghabiskan semua uang yang tersisa di pemerintah daerah.

"Kalau saya gunakan semua bagaimana kita bayar listrik? Bagaimana kita gaji aparatur? Kita perkirakan lebih kurang daya rusak yang ditimbulkan ini hampir mencapai Rp3 triliun. Ini kendala-kendala kami di lapangan," paparnya.

Bantuan dari Pemerintah Pusat

Menanggapi keluhan Bupati Aceh Timur, Kepala Pusat Data Informasi Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Mahari, menyatakan bahwa pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin membantu pemerintah daerah dalam tanggap darurat bencana ini.

"Kita sebaiknya tidak dalam konteks membenturkan salah satu institusi dengan institusi yang lain ya, karena di kami juga sangat sangat berupaya maksimal untuk mendukung pemerintah daerah dalam melakukan tanggap darurat ini," ujarnya.

Abdul juga menyebut bahwa pemerintah turut hadir langsung untuk membantu penanggulangan bencana ini. Bukti nyata adalah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana pada Senin lalu.

"Bapak Presiden mengunjungi Aceh untuk menunjukkan bahwa pemerintah pusat juga tidak setengah-setengah dalam membantu pemerintah daerah upaya tanggap darurat ini, semua sumber daya juga Bapak Presiden sendiri menyampaikan secara maksimal akan diserahkan," ujarnya.

Prabowo juga menyatakan bahwa pemerintah akan menghemat anggaran untuk memberikan bantuan kepada warga desa dan kecamatan yang terdampak bencana.

"Alhamdulillah kita punya anggarannya, kita lakukan penghematan banyak di pusat supaya sebanyak mungkin bantuan, sebanyak mungkin kita bisa membantu kepentingan rakyat di paling bawah, desa, kecamatan. Itu sasaran kita," ucapnya.

Korban Meninggal Dunia Capai 708 Jiwa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Selasa (2/12) sore mencapai 708 jiwa.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa selain korban meninggal dunia, tercatat 499 orang masih hilang.

"Sore ini untuk hasil pencarian dan pertolongan secara umum, meninggal dunia 708 jiwa. Hilang masih dilaporkan 499 jiwa," kata Aam di Posko Terpadu Penanganan Bencana Alam Aceh.

Di Sumatera Utara, korban meninggal dunia mencapai 294 jiwa dan 155 jiwa lainnya dilaporkan masih hilang. Di Aceh, tercatat 218 jiwa meninggal dunia dan 227 orang lainnya masih hilang. Di Sumatera Barat, 196 jiwa meninggal dunia dan 117 jiwa lainnya hilang.

Akses dan Logistik Masih Terhambat

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkap sejumlah wilayah di Sumatera Utara yang terdampak banjir kini mulai dapat diakses. Namun, akses darat menuju Sibolga hanya dapat dilalui motor dan mobil kecil.

Dody menargetkan agar truk kecil dapat segera melewati jalur tersebut untuk pengiriman bantuan. Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya membuka seluruh jalur konektivitas di Sumut, termasuk yang mengarah ke Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

Di Aceh, masih terdapat beberapa titik yang belum dapat dilalui karena genangan air masih sekitar 80 cm. Untuk kebutuhan alat berat, pemerintah memaksimalkan penyedia jasa yang berada di sekitar lokasi bencana. Jika jumlahnya tidak cukup, alat berat akan didatangkan dari provinsi lain.

Bantuan Pemerintah dan Organisasi Internasional

Pemerintah Indonesia telah mendistribusikan bantuan berupa 34.000 ton beras dan 6,8 juta liter minyak goreng ke wilayah-wilayah terdampak, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi telah mengirim tim tanggap cepat dan pasokan medis penting ke daerah-daerah terdampak.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyoroti bahwa bencana ini merupakan pengingat nyata dampak krisis iklim, yang memicu cuaca ekstrem semakin sering dan intens.

Bantuan dari IKM Kaltim

Banjir bandang yang mengoyak Sumatera meninggalkan duka dan kecemasan bagi para perantau Minang di Kalimantan Timur. Separuh keluarga anggota Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kaltim dilaporkan terdampak, sejumlah kampung terisolasi, dan akses bantuan hanya mengandalkan udara.

Di tengah kepanikan itu, IKM Kaltim bergerak cepat menggalang donasi untuk kampung halaman mereka. DPW Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kalimantan Timur menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Warga Kesulitan Logistik

Ketua IKM Penajam Paser Utara (PPU), Afrudin, turut menceritakan kondisi kampung halamannya di Jorong Toboh Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, yang termasuk salah satu wilayah terdampak cukup parah. Ia menyebut banyak rumah warga rata dengan tanah dan sejumlah warga masih hilang.

Komunikasi sempat terputus total selama dua hari karena listrik padam dan jaringan telekomunikasi terganggu. Akses darat juga terputus akibat jalan amblas dan jembatan putus. Mobil roda empat belum bisa masuk. Bantuan dari provinsi pun lewat helikopter.

Bencana tersebut juga memutus pasokan kebutuhan pokok karena sawah tergerus banjir, kebun rusak, dan ternak hilang terbawa arus. Anak-anak yang merantau untuk sekolah di kota kini kesulitan menerima kiriman bahan makanan.

Melihat kondisi itu, IKM PPU bergerak cepat menggalang donasi sejak Jumat (28/11) lalu. Pengurus dari 10 kabupaten/kota di Kaltim turut berpartisipasi. Afrudin menyebut bantuan akan difokuskan dalam bentuk uang agar lebih mudah disalurkan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan