
Jika diberi pilihan antara gaji besar atau hidup nyaman, aku akan memilih keduanya sekaligus. Tapi, dalam banyak situasi, kita hanya bisa memilih salah satu, bukan?
Salah satu keputusan yang paling berat adalah memilih pasangan hidup. Sebagai seseorang yang percaya pada pernikahan seumur hidup, memilih pasangan merupakan tantangan besar. Namun, ketika sudah menemukan orang yang tepat, segala tantangan hidup lainnya cenderung lebih mudah dihadapi, termasuk masalah tempat tinggal.
Setelah lulus kuliah, aku mendapatkan pekerjaan sebagai guru di Surabaya. Gajinya cukup besar, sedikit di atas UMR. Setelah menikah, alhamdulillah aku mendapat pekerjaan yang dekat dengan rumah, yaitu di pinggiran kota. Hal ini sangat membantu dalam hal mobilitas dan juga dekat dengan orang tua di kampung.
Saat kuliah, istriku pernah mengunjungi adiknya di Salatiga. Ia merasakan keindahan kota kecil ini dan berdoa suatu hari nanti akan menikahi orang dari Salatiga. Doa itu dikabulkan oleh Tuhan. Kami bersyukur.
Namun, ada tantangan tersendiri jika ingin bepergian ke luar kota. Biaya yang diperlukan cukup besar, terutama jika harus pulang kampung ke Medan. Oleh karena itu, orang tua selalu menyarankan untuk bekerja keras dan mencari uang yang cukup agar bisa sering pulang kampung.
Pada akhir November, kami harus menghadiri pernikahan sepupu di Tangerang. Anak kami sudah tinggi di atas 90 cm, jadi tiket penerbangan harus dibeli full. Biayanya lumayan besar, terutama untuk pergi-pulang.
Perjalanan sembilan jam naik bus malam terasa cepat karena diselingi tidur. Pendingin ruangan di dalam bus membuat kami kehilangan kesadaran sesaat. Suhu di jalan raya sudah berbeda dari tempat keberangkatan kami.
Meskipun pintu bus tertutup, aroma menyengat dari kali di sekitarnya kuat menusuk hidung. Itu seperti "parfum" khas kota besar. Warna airnya? Jangan ditanya! Lebih baik ditutupi saja dengan paranet di sepanjang kali.
Itu belum seberapa. Dalam beberapa hari ke depan, kami akan bersahabat dengan suhu panas, kemacetan, dan hiruk pikuk manusia dengan segala hajatnya. Setiap kunjungan ke kota besar seperti ini membuatku merenung. Masih jauh lebih enak tinggal di kota kecil.
1) Udara dan Air Bersih
Siang hari, langitnya kelabu meski tidak mendung. Asap kendaraan bermotor melukiskan wajah langit. Malam hari, lampu gedung-gedung pencakar langit terang benderang. Jalanannya dipenuhi kendaraan yang pulang kerja.
Tidak ada kupu-kupu atau kunang-kunang sebagai penanda kualitas udara yang bersih. Dulu sekali, sekitar tahun 2017, aku pernah berkunjung ke Bogor dan masih bisa melihat kupu-kupu di sekitar stasiun.
Di kota tempat aku tinggal, udara dan airnya masih bersih. Masih banyak kupu-kupu, burung, dan kadang kunang-kunang saat malam hari. Airnya juga cenderung bersih. Kali-kali di sekitar masih berwarna bening karena tidak ada polutan dari industri. Banyak sumber mata air untuk berenang maupun bermain. Semoga kondisi ini tetap terjaga.
2) Rumah-Kantor Dekat
Salah satu pasangan suami istri dari kelompok persekutuan kecil kami bercerita, meskipun punya mobil, suaminya memilih naik kereta ke tempat kerja. Itu pun butuh setidaknya satu jam perjalanan. Masih lebih cepat dibanding membawa kendaraan pribadi. Dia memilih rumah di pinggir kota, harganya terjangkau. Risikonya jauh dari tempat kerja. Malam baru bisa masuk rumah, kalau tidak lembur.
Aku hanya butuh 10 menit untuk sampai ke kantor. Jam 3 sore sudah pulang. Berjumpa dengan anak dan istri, lalu petangnya mengajar murid. Jarak rumah-kantor yang dekat membuatku bersyukur, karena masih banyak waktu bisa dinikmati bersama keluarga.
3) Banyak Tempat Piknik
Setelah acara pernikahan sepupu, tulang dari kampung mengajak kami jalan-jalan ke Monas. Sudah jauh-jauh dari kampung, rugi kalau tidak jalan-jalan. Aku sudah pernah ke Monas, jadi tidak terlalu antusias.
Bersyukur ada mobil tulang yang bisa kami gunakan. Perjalanan hampir sejam. Tiba di depan loket bawah tanah, antrinya minta ampun. Panas, sesak. Ini mau masuk ke monumen saja harus berdesak-desakan begini.
Di Salatiga, banyak tempat wisata alam sampai buatan. Mulai dari yang gratis hingga berbayar. Ada area persawahan, taman kota, gunung, arena pacuan kuda, tepian rawa, air terjun, hingga mata air untuk kolam renang. Meskipun gajinya kecil, biaya piknik tetap terjangkau.
Bagaimana, kamu yang tinggal di kota besar tertarik untuk staycation beberapa hari di kota kecil?
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar