
Di kawasan Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tim Emergency Medical Team (EMT) Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) sedang melakukan layanan kesehatan darurat bagi warga yang terdampak banjir bandang. Petugas medis bekerja keras dalam kondisi gelap gulita akibat listrik yang padam total akibat bencana tersebut.
Salah satu anggota EMT BSMI, dr. Ferry Eko Santoso, menangani seorang pengungsi perempuan berusia 60 tahun yang mengalami serangan stroke mendadak saat banjir menerjang. Pasien ini bersama suaminya harus tinggal sementara di sebuah bangunan kosong setengah jadi karena rumah mereka tenggelam oleh lumpur. Sebelumnya, pasien sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit setempat, namun karena keterbatasan kapasitas akibat banyaknya korban, pasien dipulangkan dan dirawat seadanya bersama warga lain.
Pasien mengalami stroke mendadak saat banjir. Bidan setempat, Rahila, mengatakan bahwa sebelum banjir, pasien tidak pernah menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan dan rutin memeriksakan diri. Rencananya, pasien akan dibawa kembali ke rumah sakit dalam waktu dekat.
Pos pelayanan kesehatan didirikan langsung di area pengungsian Gampong Meunasah Lhok untuk memastikan akses medis cepat bagi warga yang baru tersentuh bantuan. Pelayanan kesehatan dan pembagian logistik dilakukan pada malam hari dengan kondisi jalan menuju lokasi gelap gulita. Perawat Imanda Nova melakukan pemeriksaan tekanan darah para pengungsi sebelum ditangani dokter guna memastikan alur pelayanan sesuai standar triase medis darurat. Tim medis melayani pemeriksaan umum dan penanganan keluhan akut pascabanjir.
“Dua hari kami melakukan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi di Desa Lhok dan Lhok Ang. Sebagian besar penyakit yang kami temui adalah gangguan kulit, gatal, bernanah, dan luka,” kata dr. Ferry, Selasa (2/12/2025).
Salah satu pasien, Ruslan (65), mengaku lega setelah menerima pemeriksaan dan obat-obatan. Ia mengalami keluhan kesehatan setelah tubuhnya terendam banjir dalam waktu lama. Kehadiran tim medis diapresiasi warga yang selama ini hanya mengandalkan bidan desa setempat.
Kepala Desa Rachmadi mengungkapkan bahwa banjir bandang tahun ini adalah yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Warga tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan harta benda karena air naik sangat cepat. “Biasanya banjir bisa kita takar, naiknya perlahan jadi bisa siap-siap. Ternyata kali ini air tidak turun-turun, malah naik terus. Kita tidak ada persiapan, jadi terjebaklah orang-orang. Kalau ada rumah yang dua lantai, warga berkumpul di situ,” kata Rachmadi.
Banjir ini juga memukul sektor ekonomi warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Rachmadi memperkirakan sekitar 7 hektare sawah warga kini tertimbun lumpur dan terancam gagal panen total. “Habis sebagian besar. Wilayah sana luasnya sekitar 27 dalek (satuan luas tanah lokal). Kalau hitungannya 4 dalek itu 1 hektare, berarti sekitar hampir 7 hektare sawah sudah jadi timbunan lumpur,” tambahnya.
Sementara itu, di Desa Lhok Nga, ketinggian lumpur yang menenggelamkan desa di pinggir Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu dilaporkan mencapai 2,5 meter. Warga harus berhadapan dengan material kayu dan lumpur tebal yang merusak permukiman. Warga Desa Lhok Nga, Hidayat, mengatakan banjir ini merupakan yang terparah sejak tahun 1970-an. Ia juga meyakini bahwa deforestasi merupakan pemicu dahsyatnya banjir bandang lantaran banyak gelondongan kayu besar ikut terbawa arus dan menghancurkan rumah-rumah warga.
Tim EMT BSMI berencana melanjutkan layanan medis di wilayah Meureudu dan menjadwalkan asesmen tambahan untuk menjangkau wilayah lain yang belum mendapatkan bantuan, berkoordinasi dengan perangkat desa dan tenaga kesehatan setempat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar