Tips Ocha Tetap Tenang Meski Dikejar Tuntutan sebagai Ibu Bekerja

Kehidupan Seorang Ibu Bekerja yang Berjuang Menjaga Keseimbangan

Menjadi ibu dan bekerja memang tidak mudah, tetapi banyak perempuan yang berhasil membuktikan bahwa kesuksesan karier tidak harus mengorbankan kualitas pengasuhan anak. Ocha, seorang ibu dengan anak berusia delapan tahun, termasuk salah satu dari mereka yang tidak terlalu terpengaruh oleh ekspektasi kesempurnaan.

“Saya tipikal orang yang cuek sih. Jadi, orang mau ngomong apa, yang penting saya sama anak saya masih mengurus,” ujarnya saat dihubungi.

Meski begitu, ia tetap merasa ada ketidakpuasan dalam dirinya, terutama ketika mendengar komentar dari sesama ibu. Selama bekerja, Gala, anaknya, diasuh oleh pengasuh. Di rumah, nenek juga ikut mengawasi cucunya. Meski begitu, Ocha merasa ada sesuatu yang kurang ketika anaknya diasuh oleh orang lain.

“Dipegang pengasuh sama dipegang sendiri tuh beda. Kalau dipegang pengasuh, pasti kita ada aja enggak srek-nya, kayak enggak sesuai sama prinsipku atau kemauanku, aku maunya anakku gimana, dan lain-lain,” tutur dia.

Merasa Kurang Meluangkan Waktu dengan Anak

Perannya sebagai ibu yang masih bekerja membuat Ocha merasa kurang meluangkan waktu dengan anak. Ia hanya bisa menemani Gala saat sedang libur, serta sebelum berangkat dan sepulang kerja. Sebagian besar waktu si kecil dihabiskan dengan nenek dan pengasuhnya. Ia khawatir sang anak tidak mendapat stimulasi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Walau di kalangan ibu sering ada "persaingan halus" akan perkembangan anak-anaknya, Ocha tak terlalu peduli. Ia percaya setiap ibu lebih memahami kondisi anaknya dibandingkan orang lain.

“Untungnya lingkungan pertemananku memang ibu bekerja semua, jadi ya paling berkeluh kesah bareng-bareng. Alhamdulillah pada saling suportif,” tutur Ocha.

Mengkhawatirkan Nutrisi Anak

Media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat Ocha merasa kurang sempurna sebagai ibu. Tanpa disadari, ia sering membandingkan diri dengan orang lain. Belum lagi, ada kalanya ia tidak sempat menyiapkan makanan anaknya, sehingga khawatir asupan nutrisi anak jadi tidak terkontrol.

“Aku ngelihat ibu-ibu di media sosial, anaknya benar-benar terjaga dari nutrisi dan makanannya. Sedangkan bekerja kayak begini. Pasti entah ada yang kurang sayur, buah, belum bisa memenuhi nutrisinya,” kata dia.

Ocha mengatakan, perasaan kurang sebagai ibu adalah hal yang akan terus menghantui diri perempuan. Namun, ia berusaha mengatasinya dengan melakukan manajemen waktu yang baik dan memberikan pendidikan terbaik sesuai kebutuhan anak.

Menghibur Diri dan Memberi Afirmasi Positif

Merasa kurang sebagai seorang ibu sebenernya hal yang menghantui setiap hari. Pasti ia kepikiran. Cuma ia mikirnya, selama ia masih bisa manajemen waktu, memberikan pendidikan yang baik, ya bismillah aja.

Menghibur diri dan apresiasi diri sendiri sangat penting agar tidak terlalu terdistraksi dengan perasaan bahwa dirinya masih belum cukup baik menjadi seorang ibu.

“Menghibur diri dan apresiasi diri sendiri tuh perlu dan harus biar masih waras. Soalnya, kalau aku ingat kekurangannya terus, enggak akan ada habisnya. Pasti ada aja yang kurang yang aku lakuin,” tutur dia.

Mengapresiasi diri sendiri membantu diri menjadi lebih lega, apalagi ketika mengucapkan kata-kata afirmasi positif sambil memandang sang buah hati.

“Lega melihat anak tumbuh sehat sampai sekarang. Anakku posturnya memang kurus, dan ada anggapan anak gemuk dibilang sehat dan lebih enak dilihat. Aku kayak, enggak apa-apa yang penting anakku sehat dan jarang sakit,” ucap Ocha.

Jangan Terpaku dengan Standar Media Sosial

Selain itu, orangtua jangan terlalu terpaku dengan standar “ibu sempurna” yang beredar di media sosial. Sebab, tidak ada manusia yang sempurna. Ibu yang terlihat telaten dalam mengurus anak pun, pasti memiliki momen ketika ia merasa kurang cukup telaten dan memandang dirinya kurang sebagai seorang ibu.

“Tetap dukung anak, jangan terlalu memaksakan standar media sosial karena enggak akan ada habisnya. Si A jago ini, si B jago itu, dan anak kita harus jago keduanya, kan enggak mungkin. Bisa jadi anak kita jagonya di tempat lain,” lanjut dia.

Menurut Ocha, selama seorang ibu bisa membersamai setiap fase perkembangan anak, memfasilitasi pendidikannya, memberi perhatian penuh pada anak, dan memberi kasih sayang, ia sudah menjadi ibu yang baik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan