Titanium Dioksida: Fungsi, Keamanan, dan Dampak Kesehatan

Titanium Dioksida: Fungsi, Keamanan, dan Dampak Kesehatan

Bahan Tambahan Pangan yang Sering Diabaikan: Titanium Dioksida

Titanium dioksida adalah bahan tambahan pangan yang sering tidak disadari keberadaannya, meskipun zat ini bisa ditemukan di banyak produk makanan yang tersimpan di dapur rumah. Zat ini umum digunakan dalam industri makanan untuk memberi warna putih yang lebih cerah dan tampilan yang terlihat bersih, sehingga produk tampak lebih menarik di mata konsumen.

Bahan ini berasal dari mineral alami dan juga dipakai secara luas pada produk lain seperti tabir surya, kosmetik, cat, hingga plastik karena sifat warnanya yang kuat. Dalam makanan, titanium dioksida sering ditambahkan pada permen, saus salad, keju parut, pizza beku, sup kalengan, dan berbagai produk olahan lainnya.

Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) menyatakan bahwa titanium dioksida aman dikonsumsi selama jumlahnya sangat kecil dan tidak melebihi satu persen dari berat makanan. Organisasi Kesehatan Dunia juga memasukkan titanium dioksida sebagai bahan tambahan yang diizinkan dalam pangan dengan batas konsumsi tertentu.

Namun, Uni Eropa melarang penggunaan titanium dioksida dalam makanan karena adanya kekhawatiran terhadap potensi kerusakan DNA yang bisa berdampak jangka panjang. Otoritas Keamanan Pangan Eropa menilai bahwa jika keamanan suatu bahan tidak bisa dipastikan sepenuhnya, maka pelarangan dianggap sebagai langkah perlindungan konsumen.

Isu kesehatan terkait titanium dioksida sebenarnya sudah muncul sejak puluhan tahun lalu melalui studi pada hewan dengan paparan dosis yang sangat tinggi. Beberapa penelitian pada tikus menunjukkan risiko gangguan paru dan perubahan sel ketika zat ini terhirup atau dikonsumsi dalam jumlah ekstrem. Peneliti dan aktivis kesehatan juga menyoroti kemungkinan akumulasi titanium dioksida dalam tubuh yang dapat memicu peradangan dan gangguan fungsi organ berdasarkan studi hewan.

Hingga kini, sebagian besar riset lanjutan masih dilakukan pada hewan dan belum menunjukkan bukti kuat dampak berbahaya pada manusia dengan paparan normal dari makanan. Ahli gizi menegaskan bahwa setiap zat dapat menimbulkan efek negatif jika dikonsumsi berlebihan, sehingga konteks dosis sangat menentukan tingkat keamanannya.

Regulator pangan di Amerika menerapkan standar keamanan dengan menetapkan batas aman yang jauh lebih rendah dari dosis yang berpotensi menimbulkan efek buruk. Titanium dioksida paling sering ditemukan pada makanan ultra-proses seperti permen, permen karet, es krim, minuman bubuk, makanan beku, dan hidangan siap saji kemasan.

Basis data pangan menunjukkan ribuan produk di pasaran masih menggunakan zat ini sebagai pewarna atau bahan tambahan. Masalahnya, label kemasan tidak selalu mencantumkan nama titanium dioksida secara jelas karena bisa ditulis sebagai pewarna buatan. Kondisi ini membuat konsumen perlu lebih teliti saat membaca daftar komposisi pada kemasan makanan.

Salah satu cara mengurangi paparan adalah memilih produk organik karena aturan pangan organik melarang penggunaan pewarna sintetis. Membatasi konsumsi makanan ultra-proses juga membantu menekan asupan bahan tambahan yang tidak dibutuhkan tubuh. Mengutamakan makanan segar seperti buah, sayur, dan masakan rumahan menjadi langkah praktis untuk menjaga pola makan lebih aman.

Secara umum, titanium dioksida masih dinilai aman dalam jumlah kecil menurut otoritas Amerika, namun perdebatan ilmiah terus berlangsung. Konsumen yang peduli kesehatan dapat mengambil sikap bijak dengan memilih produk tanpa pewarna buatan dan memperhatikan kualitas makanan sehari-hari.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan