
Kritik Terhadap Eksploitasi Sumber Daya Alam di Indonesia
Kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia menjadi isu yang semakin mendesak untuk diperhatikan. Fenomena ini tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem tetapi juga memengaruhi kesejahteraan masyarakat setempat. Hal ini disampaikan secara tegas oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dalam khotbahnya saat Perayaan Ekaristi Malam Natal, Selasa (24/12/2025), di Gereja Katolik Santa Sesilia SP-2, Timika.
Uskup Bernardus menyoroti praktik eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh kelompok oligarki dan kapitalis. Menurutnya, praktik ini telah menyebabkan kerusakan parah pada hutan-hutan di berbagai daerah, termasuk di Sumatera, yang akhirnya berdampak pada bencana banjir yang menelan banyak korban jiwa.
Ia juga mengecam rencana pemerintah untuk memperluas perkebunan kelapa sawit di Papua. Dalam pernyataannya, Uskup Bernardus secara terbuka menolak pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana tersebut. Ia mengajak seluruh masyarakat Papua untuk menolak rencana ini dan menegaskan bahwa pembangunan yang hanya merusak tanah Papua harus ditolak.
"Saya ajak kita semua untuk tidak tunduk pada Jakarta. Saya ajak kita semua yang ada di tanah Papua untuk menolak dan melawan semua ilusi pembangunan negara yang hanya akan menghancurkan tanah Papua," ujar Uskup Bernardus dengan tegas.
Selain itu, Uskup Timika juga mengkritik para pejabat daerah di Papua, mulai dari gubernur, bupati, hingga lembaga perwakilan seperti Majelis Rakyat Papua (MRP) dan DPR. Menurutnya, lembaga-lembaga ini lebih berpihak kepada kepentingan oligarki dan kapitalis di Jakarta daripada menjunjung kepentingan rakyat Papua.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus juga mengajak generasi muda Papua untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga terlibat dalam aksi nyata demi pembebasan dan keselamatan sesama. Ia menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam menjaga lingkungan, terutama tanah ulayat yang dianggap sebagai "mama" bagi orang Papua.
"Tidak hanya berdoa saja, tetapi harus melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan lingkungan, terlebih tanah ulayat yang merupakan ‘mama’ bagi orang Papua," katanya.
Kritik keras Uskup Timika terhadap oligarki dan kapitalis tersebut secara spesifik diarahkan pada kerusakan lingkungan di Papua. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, termasuk dalam homili pada Juni 2025, Uskup Bernardus secara konsisten mengecam praktik perusahaan seperti PSN serta ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang nikel yang dinilainya merusak alam Papua.
Ia menyebut praktik tersebut sebagai bentuk "ketamakan" dan "kerakusan" penguasa dan pemilik modal yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat Papua.
Tantangan Lingkungan di Papua
Papua, yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa, kini menghadapi ancaman serius akibat eksploitasi sumber daya alam. Hutan-hutan yang selama ini menjadi tempat tinggal bagi masyarakat adat kini semakin terancam. Penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang nikel telah menyebabkan kerusakan ekosistem yang sangat besar.
Beberapa dampak yang terlihat adalah hilangnya habitat satwa liar, penurunan kualitas air, dan meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Masyarakat adat yang bergantung pada lingkungan alami untuk kehidupan mereka kini menghadapi tantangan yang semakin berat.
Perlu adanya kesadaran kolektif dari pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Pembangunan yang berkelanjutan harus menjadi prioritas, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi yang instan.
Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Lingkungan
Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan memastikan keberlanjutan alam. Mereka adalah masa depan yang akan menghadapi konsekuensi dari tindakan saat ini. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk terlibat langsung dalam aksi nyata, baik melalui edukasi, advokasi, maupun partisipasi dalam program perlindungan lingkungan.
Uskup Bernardus menekankan bahwa doa saja tidak cukup. Generasi muda harus menjadi agen perubahan yang mendorong perubahan positif. Dengan kesadaran dan komitmen, mereka dapat membantu melindungi tanah ulayat dan menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar