
Tanpa disadari, kita semua sebenarnya orang rajin. Saking rajinnya, punya media sosial saja lebih dari satu akun. Ada akun utama, ada akun kedua.
Akun Instagram utama isinya foto liburan yang estetik, repost pencapaian kerja, ucapan ulang tahun yang manis untuk teman, atau potret diri dengan angle terbaik. Semuanya terlihat rapi, positif, dan sangat sopan.
Sekarang, kita beralih ke akun satu lagi. Akun yang fotonya mungkin kartun nyeleneh atau gambar kucing buram. Akun yang namanya bukan nama asli. Berisi hal-hal random, cuitan absurd, curhatan dari lubuk hati yang terdalam, dan apa saja yang ingin di upload. Seperti merayakan menjadi diri sendiri.
Di akun utama dengan nama asli (Main/First Account), kita memakai topeng dan menjadi aktor yang sempurna. Namun, di akun anonim (Second Account), kita justru membuka topeng itu dan menjadi manusia yang paling jujur.
Kita hidup di zaman di mana kejujuran harus disembunyikan di balik akun gembok, sementara pencitraan dirayakan di panggung utama. Mengapa fenomena ini terjadi?
Mari kita bedah dulu fungsi akun utama. Bagi Generasi Z dan Milenial, akun utama (First Acc) bukan lagi sekadar album foto kenangan. Itu adalah portofolio. Itu adalah Curriculum Vitae (CV) kehidupan.
Di sana ada dosen pembimbing, ada bos atau HRD kantor, ada keluarga besar yang hobi bertanya kapan nikah, dan ada teman-teman lama yang diam-diam saling membandingkan kesuksesan. Di sini, hukum yang berlaku adalah tampil sempurna atau diam.
Tekanan sosial di akun utama begitu besar. Tidak boleh terlihat lemah karena nanti dikira tidak profesional. Tidak boleh mengeluh kasar, karena jejak digital itu abadi dan bisa menghambat karier. Harus terlihat bahagia, produktif, dan penuh pencapaian.
Akhirnya, akun utama menjadi ruang yang steril. Kita memposting bukan apa yang kita rasakan, tapi apa yang orang lain ingin lihat dari kita. Akun itu menjadi milik publik, bukan milik kita lagi.
Lalu, ke mana perginya sampah-sampah emosi itu? Ke mana perginya rasa marah, sedih, kecewa, iri, dan selera humor yang gelap (dark jokes)? Semua itu ditampung di Second Account.
Fenomena Second Account adalah respon alami psikologis manusia terhadap tekanan perfeksionisme tadi.
Jika akun utama adalah ruang tamu yang rapi untuk menyambut tamu, maka second account adalah kamar tidur yang berantakan, tempat kita bisa melempar baju sembarangan dan berteriak sepuasnya. Di sini, followers-nya dikurasi dengan ketat. Hanya orang-orang terpilih yang diizinkan masuk.
Orang yang di akun utamanya memposting kutipan motivasi bijak, bisa jadi di second account-nya sedang memaki-maki pengendara motor yang memotong jalannya tadi pagi. Orang yang di akun utamanya terlihat sebagai karyawan teladan, di second account-nya mungkin sedang menghitung hari untuk resign.
Apakah ini munafik? Belum tentu. Ini adalah mekanisme pertahanan jiwa. Kita memisahkan berbagai aspek kehidupan agar tidak saling bertabrakan. Kita butuh ruang untuk menjadi jelek, menjadi bodoh, dan menjadi lemah tanpa takut dihakimi oleh dunia.
Selain kebutuhan untuk curhat, maraknya second account juga dipicu oleh ketakutan akan penghakiman massal atau Cancel Culture.
Kita hidup di era "Maha Benar Netizen". Satu opini yang sedikit berbeda, satu jokes yang sedikit menyerempet bahaya, atau satu keluhan yang dianggap tidak bersyukur, bisa memicu serangan digital masif. Netizen hari ini sangat cepat menghakimi tanpa konteks.
Akun utama terlalu berisiko. Salah ketik sedikit, reputasi hancur. Maka, second account menjadi bunker perlindungan. Di sana, kita merasa aman untuk membahas isu kontroversial, menyukai konten-konten, atau sekadar menjadi fangirl/fanboy yang histeris tanpa takut dibilang alay oleh rekan kerja.
Di akun kedua, kita bebas dari penjara citra diri yang kita bangun sendiri. Kita tidak perlu menjaga wibawa. Kebebasan inilah yang membuat second account terasa nyaman.
Inilah ironinya. Kita harus membuat akun palsu (dengan nama samaran) justru untuk bisa menunjukkan siapa diri kita yang asli. Sementara di akun dengan nama asli (sesuai KTP), kita justru sibuk memerankan tokoh fiksi yang hidupnya sempurna.
Meskipun second account berfungsi sebagai terapi murah meriah, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai. Memiliki dua kepribadian digital yang bertolak belakang. Kita terbiasa hidup mendua. Kita terbiasa menyembunyikan masalah alih-alih menyelesaikannya.
Selain itu, ada risiko cepu (pengkhianat). Teman yang kita anggap circle di second account bisa saja membocorkan curhatan liar kita ke publik. Ketika tembok pemisah itu runtuh, dampaknya bisa lebih memalukan karena orang melihat sisi kita yang paling tidak terfilter.
Fenomena second account mengajarkan kita satu hal penting tentang kondisi sosial kita hari ini. Kita sedang mengalami krisis ruang aman.
Dunia menuntut kita untuk selalu positif, selalu cantik/tampan, dan selalu sukses serta bahagia. Tidak ada ruang bagi kegagalan dan keluhan di feed Instagram. Padahal, manusia adalah paket lengkap. Kita punya sisi malaikat yang bijak, tapi kita juga punya sisi lain yang terkadang ingin marah-marah.
Memiliki second account bukanlah dosa. Itu adalah cara kita menjaga kewarasan di tengah gilanya tuntutan dunia digital. Namun, mungkin ada baiknya kita mulai bertanya pada diri sendiri, seberapa lelah kita memakai topeng di akun utama.
Jika kita harus bersembunyi di akun anonim hanya untuk mengatakan "aku sedang sedih" atau "aku tidak suka ini", mungkin yang salah bukan kita. Yang salah adalah lingkungan sosial kita yang sudah kehilangan empati untuk menerima manusia apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Jadi, silakan nikmati kebebasan di second account. Tertawalah, menangislah, dan jadilah diri sendiri di sana. Tapi jangan lupa, sesekali, cobalah untuk jujur juga di dunia nyata. Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan sebagai aktor di panggung sandiwara digital.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar