Torete Menggugat: Bebaskan Arlan Dahrin, Ricuh IUP PT RCP

Torete Menggugat: Bebaskan Arlan Dahrin, Ricuh IUP PT RCP

Warga Morowali Protes Keras, Bakar Kantor Perusahaan Diduga Serobot Lahan

Morowali, Sulawesi Tengah – Suasana mencekam menyelimuti Desa Torete, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, pada Sabtu, 3 Januari 2026. Penangkapan seorang warga desa memicu gelombang protes dan kericuhan dari masyarakat setempat yang berujung pada pembakaran kantor perusahaan.

Arlan Dahrin, warga Desa Torete yang ditangkap oleh pihak kepolisian, diduga terlibat dalam pendudukan lahan kebun masyarakat yang diklaim telah diserobot oleh perusahaan PT Raihan Catur Putra (RCP). Penangkapan ini sontak menimbulkan kemarahan warga yang merasa tindakan kepolisian tidak berkeadilan.

Kronologi Aksi Protes dan Kerusuhan

Mengetahui penangkapan salah satu rekan mereka, puluhan warga Desa Torete segera bereaksi. Aksi protes dimulai dengan pemblokiran jalan di lokasi yang merupakan area Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT RCP. Langkah ini diambil untuk menunjukkan ketidakpuasan dan menghentikan aktivitas perusahaan yang diduga menjadi akar permasalahan.

Tak berhenti di situ, massa kemudian melanjutkan pergerakan mereka menuju Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Bungku Pesisir di Desa Lafeu. Dengan menggunakan sepeda motor dan mobil, mereka membawa obor sebagai simbol protes terhadap apa yang mereka anggap sebagai tindakan sewenang-wenang oleh pihak kepolisian. Suasana semakin memanas seiring dengan tuntutan warga yang menggema.

"Tujuan kami adalah meminta agar Arlan Dahrin segera dibebaskan. Dia bukan seorang koruptor, bukan pula teroris, mengapa ia harus ditangkap dengan cara seperti ini? Sementara itu, para pelaku korupsi besar maupun mereka yang menjual lahan negara justru dibiarkan bebas," ujar seorang perempuan warga Torete yang enggan disebutkan namanya, kepada awak media yang meliput. Pernyataan ini mencerminkan rasa frustrasi dan ketidakpercayaan warga terhadap penegakan hukum.

Kemarahan Memuncak: Pembakaran Kantor PT RCP

Ketidakpuasan warga tidak berhenti di Mapolsek. Merasa tuntutan mereka belum terpenuhi dan semakin mencurigai adanya campur tangan PT RCP dalam penangkapan Arlan Dahrin, massa kemudian bergerak menuju kantor perusahaan tersebut yang berlokasi di Desa Torete.

Di lokasi ini, kemarahan warga memuncak. Massa membakar kantor PT RCP sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan protes yang lebih keras. Insiden pembakaran ini dipicu oleh kecurigaan warga bahwa penangkapan Arlan Dahrin berkaitan erat dengan upaya perusahaan untuk menguasai lahan sengketa. Sebelumnya, pihak keamanan perusahaan dikabarkan sempat mendatangi lokasi sengketa untuk mengambil dokumentasi terkait keberadaan Arlan, yang semakin memperkuat dugaan warga.

Situasi Pascakericuhan

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang dikeluarkan baik dari pihak PT RCP maupun kepolisian terkait sengketa lahan yang berujung pada aksi massa dan pembakaran kantor. Pihak berwenang masih berupaya mengendalikan situasi di lapangan.

Kondisi di lokasi kejadian masih terus dalam pengawasan ketat oleh aparat keamanan. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya eskalasi konflik lebih lanjut dan menjaga ketertiban umum di wilayah Morowali. Masyarakat setempat berharap agar akar permasalahan sengketa lahan ini dapat segera diselesaikan secara adil dan transparan, serta penangkapan Arlan Dahrin dapat ditinjau kembali dengan mempertimbangkan hak-hak masyarakat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan