Jordi Cruyff Kembali ke Ajax, Membawa Warisan Johan
Setelah hampir satu dekade sejak kematian Johan Cruyff, nama besar legenda tersebut kembali bergema di Ajax Amsterdam. Namun kali ini bukan Johan yang kembali, melainkan putranya, Jordi Cruyff. Pada Februari 2026, Jordi resmi menjabat sebagai direktur teknik Ajax, menggantikan posisi Alex Kroes yang mundur setelah pemecatan pelatih John Heitinga pada November 2025.
Pemilihan Jordi sebagai direktur teknik merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh manajemen Ajax. Sebelumnya, klub telah melakukan beberapa pembicaraan intensif dengan Jordi untuk mengisi posisi penting ini. Salah satu tugas awalnya adalah menunjuk pelatih baru yang akan menggantikan peran Fred Grim sebagai manajer sementara. Selain itu, ia juga harus menghadapi tantangan dari dalam klub, terutama setelah kepala pencari bakat Kelvin de Lang mengundurkan diri karena perbedaan pandangan.
Di usia 51 tahun, Jordi memikul tanggung jawab berat: mengembalikan Ajax ke puncak Eredivisie. Terakhir kali klub raksasa Belanda itu merengkuh gelar juara liga adalah pada 2022, sebuah pencapaian yang kini terasa semakin jauh. Dengan keberadaannya, Ajax kembali memiliki sosok yang bisa membawa perubahan dan membangkitkan semangat para penggemarnya.
Nama Cruyff dan Ajax selalu terhubung erat. Johan Cruyff, sejak debutnya pada 1964, merevolusi sepak bola dengan gaya bermain yang visioner dan filosofis. Ia mempersembahkan banyak gelar nasional dan internasional, sebelum kembali ke Ajax dalam berbagai peran—pelatih, direktur teknik, penasihat, komisaris, hingga kritikus paling vokal klub yang dicintainya.
Salah satu warisan terbesarnya adalah “revolusi beludru” pada 2010, sebuah dogma sepak bola yang bertujuan mengangkat Ajax dari krisis prestasi. Meskipun revolusi itu membawa kebahagiaan bagi sebagian pihak, ia juga memicu konflik dan kekecewaan bagi yang lain. Yang pasti, Ajax selalu berubah seiring bergantinya sosok di balik kemudi.
Setelah periode panjang kesuksesan, Ajax justru mengalami kemunduran. Di tengah konteks itulah, Jordi Cruyff kini kembali—bukan sekadar sebagai pewaris nama besar, tetapi sebagai pengambil keputusan. Sebagai pemain, Jordi memang tidak mencapai level sang ayah. Ia pernah membela Barcelona dan Manchester United, namun di Ajax sendiri hanya sempat bermain di tim junior. Meski begitu, kisah hidupnya tak kalah unik.
Jordi lahir pada 1974 melalui operasi caesar, agar Johan Cruyff bisa tetap tampil dalam laga legendaris melawan Real Madrid di Santiago Bernabéu, pertandingan yang berakhir dengan kekalahan telak 0-5. Nama depannya pun sempat belum tercatat resmi di Dinas Kependudukan Amsteram; ia diberi nama Sant Jordi, santo pelindung Catalonia.
Dalam karier internasional, Jordi mencatatkan sembilan penampilan bersama tim nasional dan mencetak satu gol bersejarah di Euro 1996 saat melawan Swiss—gol yang membuat kedua orang tuanya menitikkan air mata di tribun penonton.
Usai gantung sepatu, Jordi memilih jalur berbeda. Ia bekerja di berbagai negara dan posisi—dari Ekuador hingga Tiongkok, dari Israel hingga Indonesia. Sebagian pilihannya didorong oleh keinginan untuk berkembang tanpa bayang-bayang nama besar Cruyff. Pada periode 2021–2023, ia sempat kembali ke Barcelona sebagai penasihat manajemen teknis.
Kesuksesan terbesarnya datang bersama Maccabi Tel Aviv. Di sana, ia bekerja sama dengan Peter Bosz, pelatih PSV Eindhoven saat ini dan pengagum setia filosofi menyerang Johan Cruyff. Bosz menggambarkan Jordi sebagai sosok cerdas dan komunikatif.
Dalam wawancara dengan harian Belanda de Volkskrant pada 2021, Bosz mengatakan, “Dia sangat cerdas, dengan pandangan unik tentang permainan.” Bahkan, menurut Bosz, ada kalanya ia merasa seperti sedang mendengarkan Johan ketika berbincang dengan Jordi.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar