Trump Beri Peringatan Tegas ke Iran, AS Siap Bertindak Jika Kekerasan terhadap Demonstran Berlanjut

Trump Beri Peringatan Tegas ke Iran, AS Siap Bertindak Jika Kekerasan terhadap Demonstran Berlanjut

Pernyataan Keras Presiden Trump terhadap Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan tegas kepada pemerintah Iran setelah laporan korban jiwa dalam gelombang demonstrasi besar yang terjadi di berbagai kota. Trump menekankan bahwa Amerika Serikat tidak akan diam jika aparat keamanan Iran terus melakukan tindakan represif yang mengakibatkan kematian para pengunjuk rasa yang berdemo secara damai.

Dalam pernyataannya di akun Truth Social pada Jumat, 2 Januari 2025, Trump menyatakan bahwa Washington siap merespons situasi yang sedang berkembang. Ia menegaskan bahwa jika aparat Iran kembali menembaki dan membunuh pengunjuk rasa dengan cara brutal, Amerika Serikat akan segera mengambil langkah-langkah untuk melindungi para demonstran.

Bentrokan Mematikan Terjadi di Berbagai Wilayah

Pernyataan keras dari Trump muncul setelah laporan-laporan yang mengonfirmasi adanya korban jiwa akibat bentrokan antara massa dan aparat keamanan. Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, bersama organisasi pemantau hak asasi manusia Hengaw, melaporkan terjadinya kekerasan serius di beberapa provinsi.

Hingga saat ini, sedikitnya enam orang dilaporkan meninggal dunia dalam kerusuhan yang terjadi di wilayah barat dan barat daya Iran. Rinciannya, dua korban tewas tercatat di Kota Lordegan, tiga orang di Kota Azna, serta satu orang di Kota Kuhdasht.

Di Lordegan, otoritas setempat menyebut aksi yang awalnya diikuti sekitar 150 orang berubah menjadi ricuh setelah terjadi perusakan dan pelemparan batu ke fasilitas umum. Pemerintah Iran juga menuding sebagian peserta aksi melakukan tembakan ke arah aparat keamanan, yang kemudian memicu baku tembak dan berakhir dengan jatuhnya korban.

Tekanan Ekonomi Jadi Akar Gelombang Protes

Aksi unjuk rasa ini pertama kali pecah pada 28 Desember di kawasan Grand Bazaar, Teheran. Ketidakpuasan publik dipicu oleh melemahnya nilai tukar rial Iran secara drastis terhadap mata uang asing serta kondisi ekonomi nasional yang terus memburuk.

Dalam perkembangannya, protes yang semula menyoroti persoalan ekonomi tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai kota dan berubah menjadi aksi penentangan terhadap pemerintah. Menghadapi situasi ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan pendekatan yang berbeda dibandingkan pemimpin sebelumnya. Ia secara terbuka mengakui adanya kegagalan pemerintah dalam mengelola perekonomian negara.

Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintah memikul tanggung jawab atas krisis ekonomi yang sedang terjadi dan meminta para pejabat menghentikan kebiasaan menyalahkan pihak luar, termasuk Amerika Serikat, sebagai penyebab utama masalah domestik.

Sinyal Tekanan Diplomatik dari Washington

Pernyataan Trump diperkirakan akan semakin memperkeruh hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran yang sejak lama berada dalam kondisi tegang. Sikap "siap bertindak" yang disampaikan Trump memberi sinyal bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan langkah lanjutan, mulai dari pengetatan sanksi hingga opsi strategis lain, untuk menekan Iran agar menahan diri dalam menghadapi demonstrasi.

Komunitas internasional kini terus mencermati perkembangan situasi tersebut. Banyak pihak menunggu apakah peringatan keras dari Washington akan mampu meredam kekerasan di dalam negeri Iran atau justru memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan