Trump dan Sayap Kanan Eropa: Apakah Strategi 'MAGA' Melemahkan UE?

Strategi Keamanan Nasional AS dan Dampaknya terhadap Eropa

Strategi keamanan nasional pemerintahan Trump menjadi indikasi kuat adanya keselarasan ideologis antara gerakan MAGA di Amerika Serikat dan sayap kanan di Eropa. Banyak ahli khawatir bahwa strategi ini bisa berujung pada upaya memecah-belah Uni Eropa.

Versi terbaru dari visi kebijakan luar negeri Donald Trump menimbulkan kekhawatiran di Eropa. Mereka melihat Strategi Keamanan Nasional (NSS) Amerika Serikat sebagai campur tangan langsung dalam urusan internal dan upaya untuk memperkuat posisi kelompok ekstrem kanan di Eropa. Guntram Wolff, peneliti senior di Bruegel, menyatakan bahwa ini adalah upaya untuk ikut campur dalam politik domestik Eropa, melemahkan proses demokrasi, dan mengangkat partai-partai sayap kanan.

Menurut para pakar, strategi tersebut bukan hanya sekadar pengakuan bahwa kedua kelompok memiliki pandangan serupa tentang isu seperti imigrasi, tetapi juga menunjukkan rencana yang lebih besar: membelah Uni Eropa berdasarkan garis ideologis dan melemahkannya agar memudahkan dominasi AS. Zsuzsanna Vegh, peneliti di European Council on Foreign Relations (ECFR), mengatakan bahwa melemahkan Uni Eropa sejalan dengan kepentingan pemerintahan AS saat ini: "Eropa yang terpecah akan lebih lemah dan lebih mudah ditekan dalam urusan perdagangan."

Keselarasan antara MAGA dan Ekstrem Kanan Eropa

Partai-partai sayap kanan jauh di Eropa seperti Fidesz di Hongaria, Alternatif untuk Jerman (AfD), dan Barisan Nasional di Prancis menolak keterbukaan migrasi dan cenderung menolak campur tangan Uni Eropa. Pandangan pendukung "Make America Great Again" (MAGA) sering kali mirip dengan kelompok-kelompok ini, terutama soal imigrasi dari negara-negara mayoritas Muslim.

Dokumen keamanan nasional AS memperingatkan tentang "penghapusan peradaban" di Eropa dalam dua dekade mendatang karena tingginya imigrasi dan rendahnya angka kelahiran. Dokumen ini juga menuduh Uni Eropa melakukan sensor dan menekan oposisi politik menuding bahwa Digital Services Act lebih banyak membungkam pendukung sayap kanan, bukan melindungi masyarakat dari misinformasi.

Pekan lalu, ketika UE menjatuhkan denda 120 juta kepada platform X karena kurang transparansi iklan dan pelanggaran lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyerang balik UE dan menuduh mereka "menyerang perusahaan Amerika atas hal-hal tidak penting." Tak lama kemudian, partai-partai sayap kanan jauh Eropa membela AS di platform X dan mengecam UE. PM Hongaria Viktor Orban menulis: "Eropa butuh kebebasan berbicara, bukan birokrat tak terpilih yang menentukan apa yang boleh kita baca atau katakan."

Tujuan Trump dan Strategi Pemecahan Uni Eropa

NSS menyatakan bahwa kebijakan AS terhadap Eropa harus merangsang "tumbuhnya perlawanan terhadap haluan politik Eropa saat ini dari dalam negeri." Menurut Vegh, dokumen itu menunjukkan bahwa pemerintahan AS kini lebih memilih mencari mitra politik tertentu di negara-negara Eropa, ketimbang berurusan dengan pemerintah resmi yang terpilih secara demokratis. Doktrin ini merupakan "pergeseran dari diplomasi klasik, yang biasanya membangun hubungan antarnegara bukan hubungan antarkelompok politik."

Ia menambahkan bahwa dokumen tersebut berisi serangan paling sengit terhadap UE, disertai strategi untuk "mendukung aktor politik yang sejalan dan memengaruhi politik Eropa ke arah yang menguntungkan pemerintahan Trump." "Sebagian dari rencananya tampaknya adalah menyerang prinsip-prinsip demokrasi liberal yang menjadi dasar UE," ujar Vegh. "Pemerintahan AS menggandeng sayap kanan jauh Eropa karena mereka juga sama-sama ingin melemahkan UE dari dalam."

Wolff menilai bahwa AS melemahkan UE demi keuntungan sendiri dan dengan risiko besar bagi keamanan serta ekonomi Eropa. "Perusahaan-perusahaan Eropa bergantung pada rantai nilai global yang terintegrasi, dan itu hanya mungkin berkat UE dan pasar tunggalnya," ujarnya. "Jika Anda menyerang UE dan fondasi pasar tunggal, Anda menyerang kepentingan perusahaan Eropa yang beroperasi lintas negara."

[Dari sisi keamanan, ini sejalan dengan Rusia. Pemimpin Rusia Vladimir Putin sudah mengatakan bahwa ia mendukung strategi tersebut. Tujuan Vladimir Putin jelas: Memulihkan dominasinya atas negara-negara Eropa Tengah.]

Mampukah Trump Lambungkan Ideologi Kanan Jauh di Eropa?

Belum jelas apakah visi Trump akan diwujudkan menjadi dukungan nyata seperti pendanaan untuk kelompok sayap kanan jauh Eropa. "Sebelumnya, bantuan luar negeri dan program pembangunan internasional AS, USAID memberi hibah kepada organisasi masyarakat sipil yang bekerja memperkuat demokrasi," papar Vegh. "USAID kini dihapus, tetapi pemerintahan ini mungkin membentuk saluran baru untuk mendukung organisasi yang sejalan secara ideologis. Namun sejauh ini belum ada yang terlihat secara publik."

Wolff memperingatkan bahwa hubungan terlalu dekat dengan Trump justru bisa menjadi bumerang bagi kelompok sayap kanan jauh. "Jika masyarakat melihat bahwa hubungan semacam itu adalah ancaman langsung bagi keamanan dan kemakmuran Eropa, akan ada reaksi penolakan. Sayap kanan jauh bisa dianggap merusak kepentingan inti Eropa," ujarnya.

Ian Lesser dari German Marshall Fund mengatakan bahwa meski secara umum NSS AS berpihak pada kelompok sayap kanan jauh, partai-partai di Eropa "harus berhati-hati dengan seberapa dekat mereka ingin berhubungan dengan pemerintahan AS yang tidak populer di Eropa."

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan