Trump Dibalas, Mali dan Burkina Faso Batasi Masuk Warga AS

Trump Dibalas, Mali dan Burkina Faso Batasi Masuk Warga AS

Kebijakan Pembatasan Masuk Warga AS oleh Mali dan Burkina Faso

Mali dan Burkina Faso mengambil langkah tegas dengan membatasi masuknya warga Amerika Serikat (AS) ke negaranya. Keputusan ini diambil sebagai bentuk balasan terhadap pembatasan visa yang diberlakukan oleh AS terhadap kedua negara tersebut.

Kementerian Luar Negeri Mali menyatakan bahwa warga AS akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang dialami warga Mali saat ingin berkunjung ke AS. Kebijakan ini berlaku secara langsung dan efektif. Sebelumnya, Mali telah mewajibkan warga AS untuk membayar uang jaminan agar bisa mendapatkan visa kunjungan. Langkah ini diambil setelah Washington mempersyaratkan uang jaminan untuk pembuatan visa kepada warga Mali.

Warga Mali Mendukung Kebijakan Pemerintah

Banyak warga Mali menyambut baik kebijakan junta militer dalam menetapkan pembatasan masuk warga AS. Mereka menilai bahwa Washington harus menghormati Mali dan memperlakukan warganya dengan setara. Salah seorang warga Mali menyampaikan bahwa Amerika adalah negara di dunia, sama seperti Mali. Di dunia ini, penghormatan harus dilakukan. Amerika adalah negara hukum dan Mali juga memiliki prinsip sendiri. Mereka tidak lagi dapat membiarkan negara lain, entah itu negara adidaya atau negara dunia ketiga, meremehkan mereka.

Diakridja Sidibe, seorang warga Mali lainnya, menyebut bahwa kebijakan balasan ini pantas. Dengan ini, Mali dapat mempertahankan harga dirinya dan kebijakan ini sangat normal.

Niger Belum Menetapkan Kebijakan Resiprokal

Meskipun Mali dan Burkina Faso berada di bawah kepemimpinan junta militer dan tergabung dalam Alliance of Sahel States (AES) bersama Niger, Niger menjadi satu-satunya negara AES yang belum menetapkan kebijakan resiprokal terhadap AS. Niger mengungkapkan bahwa mereka akan menentukan sikap dalam waktu dekat menanggapi pembatasan dari AS. Selain tiga negara tersebut, AS juga sudah menetapkan pembatasan kepada Nigeria, Pantai Gading, Senegal, dan sejumlah negara Afrika Barat lainnya.

AES Akan Melancarkan Serangan Ofensif

Pekan lalu, Mali, Burkina Faso, dan Niger mengumumkan akan melancarkan serangan gabungan melawan kelompok teroris di kawasan Sahel. Tentara gabungan ketiga negara AES akan bekerja sama untuk mengatasi instabilitas di wilayah tersebut. Presiden Burkina Faso, Ibrahim Traore, menyampaikan bahwa pembentukan batalion gabungan Mali, Burkina Faso, dan Niger harus diikuti oleh operasi skala besar di kawasan. Kawasan Sahel telah menghadapi instabilitas dan kekerasan selama lebih dari satu dekade.

Ketiga negara tersebut telah dikuasai oleh junta militer dalam beberapa tahun terakhir. Mereka juga membentuk AES sebagai aliansi politik dan keamanan, serta memilih keluar dari ECOWAS.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan