Trump: Thailand dan Kamboja Sepakat Berhenti Perang di Perbatasan

Kekerasan di Perbatasan Thailand dan Kamboja Berakhir

Pada hari Jumat (12/12/2025), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menghentikan semua bentrokan di wilayah perbatasan. Ia menyebutkan bahwa kedua negara akan kembali ke Kesepakatan Damai yang sebelumnya dibuat, dengan bantuan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

"Kedua negara siap untuk perdamaian dan melanjutkan perdagangan dengan Amerika Serikat," ujarnya dalam pernyataannya.

Konflik antara Thailand dan Kamboja telah menewaskan sekitar 20 orang dan memaksa lebih dari 500.000 warga mengungsi. Kedua pihak saling menyalahkan atas kembali meletusnya konflik tersebut.

Harapan Warga untuk Dialog Langsung

Di provinsi Buriram, pengungsi asal Thailand, Jirasan Kongchan (51) berharap agar perdamaian bisa dicapai melalui dialog langsung antara Thailand dan Kamboja, bukan melalui mediasi dari pihak luar.

"Saya ingin Thailand dan Kamboja berdialog satu sama lain terlebih dahulu, secara jelas dan tegas," ujarnya.

Ia juga menyarankan bahwa jika Kamboja kembali melanggar perjanjian perdamaian, negara-negara ASEAN harus turun tangan, mungkin dengan menjatuhkan sanksi tertentu.

Sementara itu, pengungsi Kamboja, Choeun Samnang (54), mengaku sangat senang mendengar bahwa Trump telah menelepon perdana menteri Thailand dan meminta kedua negara untuk mematuhi deklarasi bersama.

"Saya tidak ingin melihat negara-negara berperang. Saya ingin Kamboja dan Thailand sama-sama hidup damai," jelas dia di sebuah tempat penampungan di provinsi Banteay Meanchey.

Peran Negara-Negara Tengah

AS, China, dan Malaysia pada Juli 2025 menengahi gencatan senjata pada gelombang awal bentrokan perang Thailand-Kamboja. Pada Oktober, Trump mendukung deklarasi bersama lanjutan antara Thailand dan Kamboja.

Ia sempat memamerkan kesepakatan perdagangan baru setelah mereka setuju untuk memperpanjang gencatan senjata mereka. Namun, Thailand menangguhkan perjanjian tersebut sebulan kemudian setelah tentaranya terluka akibat ranjau darat di perbatasan.

Kamboja sendiri sebelumnya telah menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi kapan pun dengan Thailand untuk menghentikan konflik di wilayah perbatasan mereka.

"Katakanlah satu jam dari sekarang, kedua belah pihak sepakat untuk berunding dan kemudian memulai komunikasi," kata penasihat senior Perdana Menteri Kamboja, Hun Mat, dikutip Reuters.

"Itu akan menjadi ide yang sangat bagus," sambungnya.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Thailand

Meskipun begitu, Menteri Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa Kamboja harus menunjukkan ketulusan dan mengambil langkah pertama untuk meredakan ketegangan.

"Kami berharap Kamboja dapat menunjukkan komitmen yang nyata untuk menciptakan suasana damai," ujar Menteri Luar Negeri Thailand.

Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan konflik antara Thailand dan Kamboja dapat segera berakhir dan kedua negara dapat fokus pada pembangunan ekonomi serta hubungan bilateral yang lebih baik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan