Trump ungkap strategi pasukan elit AS tangkap Maduro, tembus benteng baja

Operasi Militer yang Cepat dan Efisien

Pada dini hari hari Sabtu (3/1/2026), pasukan elit Amerika Serikat (AS) berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam operasi yang berlangsung sangat cepat. Operasi ini dijelaskan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai hasil dari perencanaan matang dan tekanan berbulan-bulan terhadap pemerintahan Maduro.

Trump mengatakan bahwa lokasi tempat Maduro bersembunyi memiliki keamanan yang sangat ketat, dengan pintu baja dan ruang aman yang terbuat dari baja padat. Namun, pasukan AS mampu menyerbu sebelum Maduro sempat menutup ruang tersebut. Meskipun operasi awalnya ditunda karena cuaca, Trump sudah memberi persetujuan empat hari sebelumnya.

Dalam operasi tersebut, pasukan khusus membawa alat pemotong baja, tetapi alat itu tidak digunakan karena penyergapan berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Trump menyebutkan bahwa beberapa orang terkena tembakan, tetapi mereka kembali dan kondisinya cukup baik.

Penangkapan dan Pemindahan ke New York

Menurut sumber-sumber yang mengetahui operasi ini, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diseret keluar dari kamar mereka oleh pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS. Seorang pejabat AS menyebutkan bahwa penggerebekan ini tidak menimbulkan korban jiwa di pihak pasukan Amerika.

Dalam misi tersebut, satu helikopter militer AS mengalami kerusakan, tetapi berhasil mendarat dengan selamat. Trump mengatakan bahwa dirinya menonton langsung jalannya operasi dari ruang taktis di Mar-a-Lago, Florida, bersama para jenderal AS. Ia menjelaskan bahwa ia melihat operasi seperti sedang menyaksikan acara televisi, dengan kecepatan dan kekerasan yang luar biasa.

Operasi militer ini menjadi sinyal kuat kepada dunia bahwa AS tidak akan diintimidasi. Trump juga memperingatkan Meksiko untuk menindak lebih keras para penyelundup narkoba lintas batas.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap saat berada di kamar tidur mereka dan langsung dibawa ke kapal militer USS Iwo Jima menuju New York. Trump menyebutkan bahwa mereka berada di atas kapal dan akan segera menuju New York. Helikopter membawa mereka keluar, dan mereka pergi dengan penerbangan yang menyenangkan—menurut Trump, mereka pasti menyukainya.

Peringatan dan Opsi Negosiasi

Saat ditanya tentang opsi negosiasi yang ditawarkan kepada Maduro, Trump menjelaskan bahwa dirinya sudah memberi ultimatum. Ia menyatakan bahwa Maduro harus menyerah dan tunduk. Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berbicara langsung dengan Maduro sekitar seminggu sebelum penangkapan berlangsung.

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa tinggal di istana tidak akan melindungi seseorang dari hukum. Ia menulis di platform X bahwa Presiden Trump telah memberi Maduro beberapa opsi jalan keluar dan serius dengan setiap ucapannya.

Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan bahwa Maduro dan istrinya didakwa atas konspirasi terorisme narkoba, impor kokain, dan kepemilikan senjata otomatis. Mereka akan segera menghadapi murka keadilan Amerika sepenuhnya di tanah Amerika di pengadilan Amerika.

Dakwaan terhadap Maduro kali pertama diumumkan pada 2020, sedangkan dakwaan untuk Cilia Flores baru terungkap tahun ini. Trump menuduh Maduro sebagai pemimpin Cartel de los Soles, jaringan perdagangan narkoba internasional yang disebut memasok kokain ke AS.

Washington juga menuding Maduro merebut aset minyak milik AS, dan menyebut Venezuela sebagai pusat ekspor narkoba. Pada Agustus 2025, Trump menaikkan imbalan untuk informasi penangkapan Maduro menjadi 50 juta dollar AS (sekitar Rp 835,5 miliar).

Penangkapan Maduro menjadi klimaks dari kampanye militer dan diplomatik AS terhadap rezim Caracas. Ketika ditanya wartawan tentang harapan Tahun Baru 2026, Trump menjawab, “Perdamaian di Bumi.”

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan