Turis Asing Melonjak, Investor Kepincut Saham Pariwisata


aiotrade, JAKARTA — Momentum libur akhir tahun yang juga disambut Natal dan Tahun Baru (Nataru) dinilai membuka peluang penguatan bagi emiten-emiten yang bergerak di sektor pariwisata dan perhotelan. Sejumlah analis menilai bahwa historis pergerakan konsumsi pada akhir tahun masih memberikan ruang positif bagi sektor tersebut.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan masyarakat pada umumnya tetap menyisihkan anggaran untuk libur akhir tahun, sehingga pelemahan daya beli tidak sepenuhnya menghambat potensi pemulihan kinerja emiten pariwisata.

“Walaupun daya beli sedang lesu, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa orang Indonesia tetap menyisihkan budget untuk liburan, apalagi kalau libur panjang di ujung tahun,” ujarnya.

Liza menilai segmen menengah ke atas akan menjadi penopang utama permintaan, terutama di destinasi besar seperti Bali dan Jakarta. Okupansi serta pendapatan hotel di daerah tersebut diperkirakan meningkat seiring naiknya mobilitas wisatawan pada periode libur panjang.

“Tantangannya hanya di margin karena hotel-hotel bakal perang promo. Tapi secara operasional momentumnya tetap positif,” katanya.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi berpendapat emiten dengan pasar menengah ke atas maupun korporat berpotensi meraih manfaat terbesar dari libur Nataru. Menurut dia, daya beli kelompok menengah bawah yang masih tertekan membuat kontribusinya terhadap sektor pariwisata tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, Wafi menilai stimulus fiskal pemerintah dapat mendorong okupansi hotel, meskipun pengaruhnya dinilai masih bersifat sentimen. “Terutama untuk destinasi besar seperti Bali, Jogja, atau Labuan Bajo. Namun pengaruhnya enggak langsung besar ke laba, lebih ke arah sentimen positif,” ujarnya.

Pembangunan Jaya Ancol Tbk. - TradingView

Tantangan dari Efisiensi Anggaran
Pandangan berbeda disampaikan Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand. Ia menilai dampak stimulus fiskal terhadap kinerja emiten pariwisata pada akhir tahun cenderung terbatas. Sebaliknya, tantangan justru datang dari kebijakan efisiensi fiskal yang memangkas anggaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebesar 40 persen pada 2025.

Kementerian Keuangan meminta Kemenparekraf melakukan efisiensi sebesar Rp603,8 miliar. Dengan penghematan itu, sisa anggaran kementerian menjadi Rp884,9 miliar, turun dari sebelumnya Rp1,49 triliun.

“Pemangkasan ini dinilai kontraproduktif karena membatasi kemampuan pemerintah untuk melaksanakan program strategis seperti promosi internasional dan pengembangan destinasi, yang berpotensi memicu kerugian ekonomi di sektor perhotelan dan restoran karena hilangnya belanja MICE pemerintah,” kata Abida.

Ia menambahkan, paket stimulus ekonomi pemerintah lebih difokuskan pada penguatan iklim investasi dan kepastian hukum secara umum, bukan secara khusus diarahkan untuk sektor pariwisata. “Jika stimulus tersebut tidak dilengkapi dengan skema pendanaan non-APBN, seperti dana abadi pariwisata, untuk menggantikan anggaran yang dipangkas, dampaknya terhadap kinerja operasional emiten menjelang akhir tahun diperkirakan minim,” ujarnya.

Meski begitu, Abida sejalan dengan pendapat Liza bahwa tren historis menunjukkan masyarakat Indonesia tetap menyisihkan anggaran untuk perjalanan akhir tahun. Ia mencontohkan tingginya kunjungan ke destinasi yang dikelola PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) yang kerap melampaui target pada periode liburan.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target harga Rp1.600 per saham, serta saham PJAA, PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), dan PT Multi Indocitra Tbk (MICE) untuk akumulasi jangka pendek. Sementara itu, KISI Sekuritas merekomendasikan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Island Concepts Indonesia Tbk (ICON), dan PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR), dengan mempertimbangkan likuiditas dan valuasi yang dinilai masih menarik.

Kunjungan Wisman Tumbuh Dua Digit
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 1,33 juta pada Oktober 2025, meningkat 11,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, secara bulanan, angka tersebut turun 4,83 persen dibandingkan September 2025.

Kunjungan Turis Asing Melonjak
Panorama Sentrawisata Tbk. - TradingView

Secara kumulatif, kunjungan wisman pada Januari–Oktober 2025 mencapai 12,76 juta, naik 10,32 persen secara year on year. Wisman asal Malaysia menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 17,13 persen, diikuti Australia 11,9 persen dan Singapura 9,4 persen.

Sebanyak 1,17 juta wisman masuk melalui pintu utama seperti bandara dan pelabuhan internasional, sedangkan 152.775 kunjungan tercatat melalui pintu perbatasan darat dan laut.

“Jika dilihat berdasarkan pintu masuk utama, kunjungan wisman paling banyak masuk melalui Bandara Ngurah Rai, didominasi oleh wisman berkebangsaan Australia,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam rilis resmi, Senin (1/12/2025).

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan