
Pemasangan Sistem Penjernih Air Bertenaga Surya di Wilayah Terdampak Bencana Aceh Utara dan Bener Meriah
Tim relawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) melakukan pemasangan sistem penjernih air bertenaga surya di wilayah terdampak bencana Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat layanan kesehatan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya dalam hal akses air bersih.
Sistem penjernih air yang dipasang merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi masalah keterbatasan akses dan pasokan air bersih di daerah tersebut. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi adalah adanya kondisi air mati yang berlangsung dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Hal ini sangat berdampak pada layanan kesehatan, terutama di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas.
Tim Relawan UGM dan Rencana Pemasangan Alat
Tim relawan UGM yang tergabung dalam Tim Cadangan Kesehatan–Emergency Medical Team, Academic Health System (TCK-EMT AHS) dipimpin oleh dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG, Subsp. Urogin-RE. Ia menyebutkan bahwa sebagai langkah awal, tim memasang sistem penjernih air sederhana di RSUD Bener Meriah. Berdasarkan hasil asesmen awal, alat penjernih air juga diprioritaskan untuk Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes Simpur.
Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Adhy Kurniawan, menjelaskan bahwa sistem penjernih air ini menggunakan panel surya sehingga tidak bergantung pada listrik atau bahan bakar minyak (BBM). Kapasitas sistem ini mencapai 500 hingga 1.000 GPD atau sekitar 1.900–3.800 liter per hari. Dengan demikian, sistem ini dapat beroperasi secara mandiri tanpa memerlukan pasokan energi tambahan.
Aktivitas Tim Relawan Selain Pemasangan Alat
Selain pemasangan alat, tim relawan juga melakukan berbagai aktivitas lainnya. Di antaranya adalah pemeriksaan fasilitas kesehatan, pemantauan kondisi pengungsi, serta edukasi kebersihan diri. Dalam proses ini, ditemukan sejumlah kasus penyakit menular maupun tidak menular di posko pengungsian.
“Tim juga mencatat satu pasien dengan dugaan gangguan kesehatan mental,” ungkap Nurhadi. Hal ini menunjukkan bahwa selain masalah fisik, kondisi psikologis pengungsi juga menjadi perhatian khusus dalam kegiatan ini.
Dukungan Pendanaan dan Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Selain itu, kolaborasi lintas perguruan tinggi juga menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan program tanggap darurat bencana.
Manfaat dan Potensi Sistem Penjernih Air
Sistem penjernih air bertenaga surya ini memiliki potensi besar dalam membantu masyarakat terdampak bencana. Dengan kemampuannya yang mandiri dan ramah lingkungan, alat ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk memastikan akses air bersih. Selain itu, sistem ini juga dapat digunakan di daerah-daerah lain yang menghadapi kesulitan serupa.
Tantangan dan Langkah Ke depan
Meskipun telah berhasil dipasang dan beroperasi, ada beberapa tantangan yang masih harus dihadapi. Misalnya, perawatan dan pemeliharaan alat agar tetap berfungsi optimal. Selain itu, perlu adanya pelatihan bagi masyarakat setempat agar mereka mampu mengoperasikan dan merawat alat tersebut.
Kesimpulan
Pemasangan sistem penjernih air bertenaga surya di wilayah terdampak bencana Aceh Utara dan Bener Meriah merupakan inisiatif yang sangat penting. Selain memberikan akses air bersih, kegiatan ini juga memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memperkuat ketahanan masyarakat di tengah situasi darurat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar