
Bantuan Penuh dari UMP Purwokerto untuk Mahasiswa Asal Sumatra dan Aceh
UMP Purwokerto, sebuah institusi pendidikan tinggi di Jawa Tengah, telah menunjukkan dukungan penuh kepada delapan mahasiswa asal Sumatra dan Aceh yang keluarganya terdampak banjir bandang dan longsor. Dukungan ini tidak hanya berupa bantuan logistik, tetapi juga keringanan biaya kuliah selama satu tahun penuh. Selain itu, mahasiswa tersebut juga diberikan makan tiga kali sehari secara gratis.
Kondisi Keluarga yang Terdampak Bencana
Farihah Salsabila (20), mahasiswi semester 3 Program Studi Anastesi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP Purwokerto, menceritakan pengalamannya saat banjir bandang melanda Aceh Tengah. Ia sempat dua pekan tidak dapat berkomunikasi dengan keluarganya karena akses komunikasi terputus. "Waktu kejadian, kontak terakhir cuma dua menit," ujar Farihah. Ia menjelaskan bahwa jaringan seluler sering terputus dan logistik sangat sulit didapat. "Di rumah keluarga, katanya makan cuma rebus-rebusan."
Rumah keluarganya berada di pelosok pegunungan, di mana jalan menuju lokasi benar-benar terputus. Untuk mencapai daerahnya, perjalanan bisa memakan waktu berjam-jam. Saat itu, banjir setinggi lutut orang dewasa menerjang kampungnya. Keluarganya sempat dievakuasi, dan sejak itu komunikasi semakin sulit. Kiriman uang dari orangtua juga berhenti total lantaran daerah itu tengah mengalami kekurangan bahan makanan dan akses ekonomi lumpuh. "Sekarang bertahan dengan tabungan sendiri," ujarnya.
Tamlika Riamban, mahasiswa jurusan yang sama, juga menceritakan kondisi keluarganya di Aceh Utara. "Rumah sudah agak mendingan, tapi SPBU susah. Akses pulang semua putus," katanya. Meski masih bisa berkomunikasi lewat WhatsApp, ia tetap waswas memikirkan keadaan kakak, ayah, dan adiknya di kampung. Uang sakunya kini hanya mengandalkan simpanan pribadi.
Aulis Feby, mahasiswa jurusan pertanian asal Sumatra, juga mengalami hal serupa. Ia terisak saat bercerita neneknya terdampak banjir. "Kami berterima kasih sudah diperhatikan dan diberi keringanan. Pengin pulang tapi aksesnya susah," ujarnya.
Langkah Kampus dalam Mendukung Mahasiswa
Menanggapi keresahan para mahasiswa ini, Rektor UMP Prof Dr Jebul Suroso memberikan jaminan penuh. "Mahasiswa asal Sumatra dan Aceh tidak boleh tidak makan. Kami gratiskan makan tiga kali sehari," katanya di depan mahasiswa. UMP juga tengah menyusun SK khusus untuk memberikan keringanan pembayaran SPP selama satu tahun penuh bagi mahasiswa dari wilayah terdampak bencana.
"Kami buat skema khusus agar biaya kuliah diringankan. Kalau perlu, kami juga siap menguliahkan saudara-saudara kita dari Aceh dan Sumatra yang masih SMA," tambahnya. Menurutnya, UMP akan membuka beasiswa khusus dan menyiapkan fasilitas asrama bagi calon mahasiswa dari kedua daerah tersebut.
Selain itu, pihak UMP Purwokerto juga menyiapkan tim psikososial untuk diterjunkan langsung ke Sumatra, membantu pemulihan mental warga terdampak.
Lelang Lukisan sebagai Bentuk Donasi
Momen itu makin emosional ketika Eprisa Nova Rahmawati (22), mahasiswa disabilitas yang kini bekerja di UMP, memperlihatkan karya lukisannya yang segera dilelang. Lukisan itu didominasi warna suram, dengan sapuan yang menggambarkan tumpukan kayu dan lanskap gelap sebuah metafora dari wajah Sumatra yang porak poranda akibat banjir bandang.
"Lukisan ini ingin menggambarkan Sumatra sekarang, yang mengerikan karena bencana. Hasilnya akan kami sumbangkan," ujar Eprisa. Ia berharap, karyanya menjadi pengingat bahwa alam harus dijaga dan manusia perlu lebih sadar akan keseimbangan lingkungan. "Agar alam juga menjaga kita," katanya.
UMP memastikan, seluruh hasil lelang akan disalurkan untuk bantuan korban bencana di Aceh dan Sumatra Utara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar