Uni Eropa minta semua pihak tahan diri usai serangan AS ke Venezuela, khawatir eskalasi meluas

Uni Eropa minta semua pihak tahan diri usai serangan AS ke Venezuela, khawatir eskalasi meluas

MEDIA JABEJABE - Uni Eropa angkat suara menyusul serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela yang terjadi pada awal Januari 2026. Blok regional tersebut meminta semua pihak menahan diri dan menghindari langkah lanjutan yang berpotensi memperparah konflik di kawasan Amerika Selatan.

Seruan itu disampaikan langsung oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, di tengah meningkatnya ketegangan setelah operasi militer AS diumumkan secara terbuka oleh Presiden Donald Trump.

UE Soroti Risiko Eskalasi dan Pelanggaran Hukum Internasional

Dalam pernyataannya, Kaja Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa memantau perkembangan di Venezuela secara intensif. UE juga disebut aktif menjalin komunikasi dengan otoritas Amerika Serikat serta perwakilan Uni Eropa yang berada di Caracas.

“Prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dihormati dalam kondisi apa pun,” ujar Kallas, dikutip dari Anadolu Ajansı.

Ia menambahkan, Uni Eropa mendorong semua pihak untuk menahan diri demi mencegah eskalasi konflik yang bisa berdampak luas, tidak hanya bagi Venezuela tetapi juga stabilitas regional.

Selain itu, keselamatan warga negara Uni Eropa yang berada di Venezuela menjadi perhatian utama. UE memastikan situasi mereka terus dipantau melalui jalur diplomatik dan perwakilan resmi.

Sikap Politik UE Tak Berubah, Tapi Tolak Aksi Militer

Uni Eropa selama ini memang tidak mengakui legitimasi pemerintahan Presiden Nicolás Maduro dan secara konsisten menyerukan transisi demokratis di Venezuela. Namun, posisi politik tersebut tidak serta-merta membuat UE membenarkan tindakan militer sepihak.

Menurut Kallas, Uni Eropa menolak penggunaan kekuatan yang melanggar hukum internasional, apa pun konteks politiknya. Pendekatan diplomatik dan solusi damai tetap dianggap sebagai jalan yang paling rasional.

Pernyataan ini menegaskan garis tegas UE: kritik terhadap pemerintahan Maduro tidak boleh menjadi pembenaran bagi aksi militer yang berisiko memicu korban sipil.

Serangan AS Picu Status Darurat di Venezuela

Serangan Amerika Serikat ke Venezuela diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump melalui media sosial. Ia menyebut operasi militer dilakukan dalam skala besar dan menargetkan sejumlah fasilitas strategis.

Beberapa laporan bahkan menyebut Trump mengklaim Presiden Nicolás Maduro telah ditangkap dan dibawa keluar dari Venezuela. Hingga kini, klaim tersebut masih memicu kebingungan di tengah derasnya informasi yang beredar.

Pemerintah Venezuela merespons serangan itu dengan menetapkan status darurat nasional. Warga di sejumlah wilayah melaporkan suara ledakan dan pergerakan militer intensif, menandai meningkatnya ketegangan di dalam negeri.

Negara-Negara UE Dorong De-eskalasi dan Dialog

Sejumlah negara anggota Uni Eropa, termasuk Spanyol dan Belgia, turut menyuarakan keprihatinan. Mereka menekankan pentingnya de-eskalasi konflik dan kepatuhan terhadap hukum internasional.

Pemerintah negara-negara tersebut juga memastikan bahwa warga negara mereka di Venezuela berada dalam pengawasan dan sejauh ini dilaporkan aman, meskipun situasi politik dan keamanan sangat dinamis.

Seruan dialog kembali ditegaskan sebagai satu-satunya jalan keluar untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.

Uni Eropa menilai konflik Venezuela berisiko berubah menjadi krisis regional jika tidak segera diredam. Dengan menyerukan penahanan diri, UE berupaya menekan eskalasi sekaligus mengingatkan semua pihak bahwa solusi damai dan hukum internasional tetap menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan konflik global.***

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan