
Ringkasan Berita:
- Portal berita Nadi Papua resmi mundur dari Festival Media se-Tanah Papua 2026 di Nabire.
- Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap dugaan intervensi politik, militer, dan korporasi dalam acara tersebut.
- Redaksi menegaskan jurnalisme harus tetap merdeka dan menjadi kontrol sosial.
Laporan Wartawan nurulamin.pro, Melky Dogopia
nurulamin.pro, NABIRE–Langkah tegas diambil portal berita Narasi Dignitas (Nadi) Papua dengan menyatakan mundur dari kepesertaan Festival Media se-Tanah Papua 2026 pada 13–15 Januari.
Keputusan drastis ini mencuat hanya dua hari menjelang pembukaan acara yang dijadwalkan berlangsung di Nabire, Papua Tengah.
Manajemen Nadi Papua secara resmi mengumumkan penarikan diri tersebut pada Minggu (11/1/2026) melalui keterangan pers secara tertulis di grup Whatsapp.
Penarikan dukungan ini didasari oleh kekhawatiran mendalam terhadap potensi intervensi kekuatan politik, korporasi besar, hingga institusi militer dalam agenda jurnalistik tersebut.
“Kehadiran logo pemerintah, foto pejabat daerah, hingga simbol militer bertentangan dengan prinsip dasar jurnalisme yang merdeka,” tegas Redaksi Nadi Papua dalam siaran persnya.
Redaksi Nadi Papua berpendapat bahwa prinsip kebebasan pers harus tetap dijaga agar media tidak bertransformasi menjadi sekadar perpanjangan tangan penguasa atau alat legitimasi korporasi.
Keputusan ini menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri media di Papua tentang pentingnya menjaga martabat profesi dari tekanan eksternal.
Media memiliki tanggung jawab moral untuk tetap berdiri di sisi kepentingan rakyat dan bersikap kritis terhadap segala bentuk penyimpangan kekuasaan.
“Jurnalis harus memiliki keberanian untuk mengawasi korporasi serta mencatat setiap tindakan sewenang-wenang tanpa rasa takut,” tulis Redaksi Nadi Papua lagi.
Sikap tegas Nadi Papua ini diharapkan memicu diskusi sehat mengenai batasan kolaborasi antara lembaga pers dengan institusi pemerintah maupun militer.
Independensi merupakan harga mati yang tidak dapat ditukar dengan fasilitas atau kemegahan seremoni dalam sebuah ajang festival.
Pers yang merdeka adalah pilar demokrasi yang wajib dijaga keberadaannya demi menyuarakan kebenaran di tengah kompleksitas dinamika sosial di Tanah Papua.
Langkah pengunduran diri ini menjadi pernyataan sikap nyata bahwa integritas profesi lebih tinggi nilainya daripada sekadar partisipasi formal. (*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar