Vaksin Heksavalen: Perlindungan 6 Penyakit dalam Satu Suntikan

Pentingnya Imunisasi Dasar untuk Kesehatan Anak

Imunisasi merupakan salah satu cara paling efektif dalam mencegah berbagai penyakit pada anak. Dengan imunisasi, sistem kekebalan tubuh anak dapat dibangun lebih kuat. Beberapa jenis vaksin sudah diberikan sejak bayi lahir dan terus dilanjutkan hingga usia anak semakin besar.

Mengapa imunisasi, terutama imunisasi dasar, menjadi penting? Imunisasi dasar tidak hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga berperan dalam membangun kekebalan kelompok atau herd immunity. Kekebalan ini sangat penting karena melindungi individu yang tidak dapat divaksinasi karena kondisi kesehatan tertentu. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, penyebaran penyakit berbahaya bisa ditekan.

Sayangnya, masih ada orang tua yang enggan membawa anak-anaknya untuk mendapatkan imunisasi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kemenkes RI bersama UNICEF dan AC Nielsen pada kuartal kedua tahun 2023, alasan utama orang tua tidak membawa anaknya imunisasi adalah karena takut dengan imunisasi ganda. Sebanyak 38 persen responden mengungkapkan ketakutan tersebut. Imunisasi ganda berarti pemberian dua vaksin yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Masih banyak orang tua yang menganggap bahwa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau efek sampingnya akan menjadi lebih parah.

Upaya Terbaru Pemerintah untuk Menggencarkan Imunisasi Anak

Untuk mengatasi kekhawatiran orang tua, khususnya terkait imunisasi ganda, Kemenkes RI bakal memperluas penggunaan vaksin Heksavalen dalam program Imunisasi Nasional. Implementasi awal imunisasi Heksavalen sudah dimulai Oktober 2025 di sembilan provinsi, yakni DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, serta wilayah Papua. Pemerintah menargetkan penerapan vaksin Heksavalen diperluas secara nasional mulai 2026.

Vaksin Heksavalen merupakan vaksin kombinasi yang melindungi anak dari enam penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis akibat Haemophilus influenzae tipe b, serta polio. Vaksin ini menggantikan pemberian terpisah DPT-HB-Hib dan IPV. Penggunaan vaksin kombinasi bertujuan mengurangi jumlah suntikan, menghemat waktu dan biaya kunjungan ke fasilitas kesehatan, serta mempercepat pembentukan kekebalan masyarakat.

“Dengan vaksin Heksavalen, suntikan ganda dapat dikurangi. Ini membuat pemberian imunisasi lebih nyaman bagi anak dan orang tua, sekaligus diharapkan dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap imunisasi,” jelas Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, Indri Yogyaswari .

Di kesempatan yang sama, Komite Imunisasi Nasional menyetujui peralihan ke vaksin Heksavalen tanpa perubahan jadwal imunisasi rutin, yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan, serta tetap disertai vaksin polio oral (bOPV). Ketua Komite Nasional PP KIPI, Prof. Dr. Hindra Irawan Satari, menyampaikan vaksin Heksavalen telah melalui evaluasi keamanan yang ketat dan terdaftar di Badan POM. Surveilans Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) juga akan terus dilakukan secara berjenjang.

“Vaksin Heksavalen memiliki profil keamanan yang baik dan telah melalui uji klinis yang panjang. Sistem surveilans KIPI diharapkan berjalan aktif untuk memastikan setiap kejadian pasca imunisasi dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ungkap Prof. Hinky.

Ingat, Moms! Imunisasi lengkap dan tepat waktu bisa mencegah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Sebab, anak yang belum atau terlambat diimunisasi lebih rentan tertular penyakit dan berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Tidak ada kata terlambat untuk imunisasi. Anak yang terlewat jadwal tetap perlu mendapatkan imunisasi kejar agar kekebalan tubuhnya terbentuk dan risiko penularan penyakit dapat ditekan,” tutup Indri.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan