
Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) pada hari Senin merilis gambar pembom jarak jauh H-6 yang dipersenjatai dengan rudal jelajah yang diluncurkan dari udara selama latihan Justice Mission-2025, yang dilaksanakan di sekitar Taiwan. Informasi ini disampaikan oleh Komando Teater Timur. Pesawat yang terlihat dalam gambar resmi tersebut dilengkapi dengan dua rudal udara-ke-permukaan yang diidentifikasi oleh analis sumber terbuka sebagai YJ-12, sebuah rudal anti-kapal supersonik yang dikembangkan oleh China Aerospace Science and Industry Corporation.
- Video: China menyamarkan peluncur rudal nuklir sebagai derek sipil untuk menyembunyikan ICBM
Menurut materi yang dirilis, formasi pembom melaksanakan pelatihan serangan maritim jarak jauh, dengan fokus pada pengerahan jarak jauh, operasi serangan terkoordinasi, dan keterlibatan presisi bersama. PLA menyatakan bahwa latihan tersebut menilai kemampuan pasukan untuk melaksanakan operasi di luar rantai pulau, dengan mengintegrasikan unsur udara, laut, darat, dan rudal. Komando Teater Timur menggambarkan kegiatan tersebut sebagai berorientasi pada skenario blokade dan koordinasi serangan jarak jauh.
Rudal YJ-12 dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara laut modern pada kecepatan tinggi. Publikasi akademik dan analisis militer memperkirakan jangkauan rudal ini antara 250 hingga 400 kilometer, tergantung pada profil peluncuran, serta kecepatan yang berkisar dari sekitar Mach 2 dalam penerbangan rendah mengikuti permukaan laut hingga lebih dari Mach 3 ketika diluncurkan dari ketinggian yang lebih besar. Penilaian mengenai massa hulu ledak bervariasi, antara sekitar 200 hingga 500 kilogram, dengan sebagian daya hancurnya juga dikaitkan dengan energi kinetik yang tinggi pada fase terminal.

Perbandingan dalam studi internasional menunjukkan bahwa jangkauan YJ-12 dapat melampaui rudal anti-kapal Barat seperti Harpoon, serta memungkinkan peluncuran dari luar jangkauan keterlibatan sistem angkatan laut seperti SM-2 dan RIM-162 ESSM, tergantung pada kondisi operasional.
Pembom H-6, sebuah platform yang telah beroperasi selama beberapa dekade di Angkatan Udara dan Penerbangan Angkatan Laut PLA, telah mengalami berbagai adaptasi untuk mengoperasikan persenjataan serangan jarak jauh modern. Ketika dipersenjatai dengan rudal anti-kapal yang diluncurkan dari udara, platform ini digunakan dalam misi serangan maritim jarak jauh dari wilayah daratan China.
Latihan Justice Mission-2025 masih berlangsung dan, menurut Beijing, melibatkan berbagai cabang angkatan bersenjata China dalam operasi gabungan di sekitar Taiwan. Latihan ini mencerminkan komitmen PLA untuk meningkatkan kapasitas operasionalnya dalam skenario konflik potensial di kawasan Asia Pasifik.
Beberapa aspek penting dari latihan ini mencakup:
- Koordinasi lintas cabang: Latihan melibatkan kolaborasi antara angkatan darat, laut, dan udara dalam menjalankan operasi gabungan.
- Peningkatan kapasitas serangan jarak jauh: Penggunaan rudal YJ-12 menunjukkan upaya PLA untuk memperluas jangkauan serangan dan meningkatkan efektivitas operasi maritim.
- Pengembangan teknologi militer: Pembom H-6 yang diperbarui menunjukkan inovasi dalam pengembangan persenjataan dan strategi operasional.
Selain itu, latihan ini juga menjadi indikasi dari pergeseran strategi militer China dalam menghadapi dinamika geopolitik di kawasan. Dengan peningkatan kapasitas serangan jarak jauh, PLA semakin mampu mengamankan kepentingan nasionalnya di kawasan yang semakin kompleks.
Dalam konteks global, pengembangan senjata seperti YJ-12 dan pembom H-6 menunjukkan kemajuan teknologi militer China yang signifikan. Hal ini tidak hanya memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan tetapi juga memiliki dampak pada kebijakan pertahanan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar