
Liga Desa Kabupaten Pati 2025 Jadi Sorotan Media Sosial
Penyelenggaraan Liga Desa Kabupaten Pati 2025 menjadi sorotan tajam di jagat maya. Turnamen sepak bola tingkat kabupaten ini mendadak viral, bukan karena prestasi pemainnya, melainkan karena hadiah bagi para juara yang dinilai tidak lazim. Masyarakat dan netizen mulai memperbincangkan hal ini dengan berbagai tanggapan yang menunjukkan kekecewaan.
Netizen Kritik Hadiah yang Dianggap Tidak Layak
Media sosial, terutama akun-akun informasi lokal, dibanjiri komentar pedas dari netizen setelah video penyerahan hadiah dua dus makanan ringan beredar. Kekecewaan publik memuncak dan memunculkan berbagai sindiran kreatif namun menohok. Banyak netizen yang melontarkan komentar sarkastik dengan menyebut kompetisi ini sebagai "Liga Chiki-chiki". Sebutan ini merujuk pada hadiah makanan ringan (snack) yang diterima para juara.
Beberapa komentar menonjol antara lain: * "Iki liga tingkat kabupaten opo lomba agustusan tingkat RT? Hadiahe kok Chiki-chiki." * "Fix, kedepannya ganti nama wae dadi Liga Chiki-chiki Pati."
Kronologi dan Kekecewaan Peserta
Turnamen yang diselenggarakan oleh Dispermades Pati ini berakhir pada Selasa (30/12/2025) di Stadion Joyokusumo. Persewo Wonorejo berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Persip Pohgading. Kekecewaan mendalam dirasakan oleh tim Persip Pohgading. Official tim menyebutkan bahwa saat technical meeting, ada harapan akan adanya uang pembinaan. Namun, pada kenyataannya mereka hanya membawa pulang piala dan dua dus makanan ringan tanpa uang tunai sepeser pun.
Penjelasan dari Dispermades Pati
Kepala Dispermades Pati, Tri Haryama, menjelaskan bahwa kegaduhan ini terjadi karena adanya keterbatasan anggaran. Beliau menegaskan beberapa poin penting: * Anggaran Terbatas: Memang tidak ada alokasi anggaran untuk uang pembinaan dalam APBD tahun ini untuk Liga Desa. * Hadiah Sponsor: Dua dus makanan ringan tersebut murni merupakan tambahan dari pihak sponsor (perusahaan Garuda), bukan hadiah utama yang direncanakan pemerintah. * Fokus Pembinaan: Meskipun hadiah minim, pemerintah berharap turnamen ini tetap menjadi wadah positif bagi pemuda desa.
Polemik yang Menjadi Pelajaran Berharga
Polemik "Liga Chiki-chiki" ini menjadi pengingat bagi penyelenggara untuk lebih transparan dan matang dalam merencanakan sebuah kompetisi agar tidak menjatuhkan mental para atlet di tingkat akar rumput. Dengan adanya kritik dan masukan dari masyarakat, diharapkan penyelenggara dapat belajar dan memperbaiki cara penyelenggaraan kompetisi di masa depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar