Waduh! Kasus HIV/AIDS di Tasikmalaya Mengkhawatirkan, Dinkes Perketat Skrining

Upaya Dinkes Kota Tasikmalaya dalam Mengendalikan Kasus HIV/AIDS

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya terus berupaya untuk mengendalikan jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHIV) yang semakin meningkat. Data menunjukkan bahwa dari Tahun 2023 hingga tahun 2025, tren pengidap HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya terus meningkat. Hal ini menunjukkan pentingnya langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan oleh pihak Dinkes.

Sasaran utama penyebaran virus imunodefisiensi manusia (HIV) di Kota Tasikmalaya adalah mereka yang berusia produktif. Hasil pencatatan Dinkes Kota Tasikmalaya menunjukkan adanya tren mengkhawatirkan penderita HIV/AIDS setelah dilakukan skrening pada warga usia produktif. Meski kasus baru HIV-AIDS di Kota Tasikmalaya sepanjang 2025 masih berada pada level yang mengkhawatirkan, secara angka mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan Skrining sebagai Strategi Utama

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr. Asep Hendra, menyebutkan bahwa peningkatan jumlah skrining adalah salah satu upaya untuk mendeteksi dan mengendalikan kasus HIV/AIDS. Dengan data yang valid, pihaknya akan langsung melakukan pengobatan dengan pemberian tablet ARV.

“Benar, tahun ini kami langsung meningkatkan sasaran skrining hingga 21.134 orang berdasarkan indikator yang sudah ada. Ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 17 ribuan sasaran,” ujarnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Menurut Hendra, dengan adanya peningkatan jumlah sasaran skrining, maka kasus baru akan ditemukan. Untuk itu, tambah Hendra, dengan ditemukan adanya gejala warga yang mengidap maka itu akan jadi sasaran pengobatan.

“Maka dengan ditemukannya gejala pengida atau pegidap, pihaknya langsung bisa lakukan pengobatan agar kasusnya jadi terkendali. Sama seperti Covid yakni semakin banyak yang di swab, maka semakin banyak yang ditemukan,” tandas Hendra.

Selain melakukan skrining, urai Hendra, pihaknya pun menambah jumlah layanan untuk HIV/AIDS. Selain 4 Rumah Sakit, kata Hendra, juga menambah layanan kasus HIV/AIDS di 4 Puskesmas.

“Dengan berbagai upaya yang dilakukan ini, kami berharap penanganan kasus HIV/AIDS Aids dapat dilakukan secara maksimal,” tandas Hedra seraya menyebutkan bahwa dari hasil skrining tahun 2025 ditemukan sebanyak 136 kasus baru HIV/AIDS.

Usia Produktif Rentan Terjangkit

Peningkatan kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya telah menjadi perhatian pihak Dinkes, karena peningkatan penyebarannya terjadi pada mereka yang berusia produktif. Untuk itu, pihak Dinkes sendiri terus berupaya dengan berbagai cara untuk melakukan pencegahan.

Sebelumnya, pihak Dinkes sendiri telah melakukan pemeriksaan kepada masyarakat yang rentan dan berisiko tinggi termasuk ibu hamil, penderita TB, infeksi menular seksual (IMS), LSL, waria, pekerja seks, pengguna jarum suntik dan warga binaan di pemasyarakatan.

Data yang ada di Dinkes Kota Tasikmalaya mencatat tahun 2022 ada 145 kasus, 2023 145 kasus, 2024 169 kasus dan 2025 ada 136 kasus. Kelompok beresiko tertular HIV/AIDS antara lain lelaki seks dengan lelaki (LSL), waria, wanita pekerja seks (WPS) dan usia produktif rentan terpapar.

Data itupun mencatat bahwa daerah yang paling tinggi terpapar kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya yakni Kec Cihideung, Kec Tawang, Kec Cipedes dan kecamatan lainnya. Namun begitu tetap harus diwaspadi terutama mereka yang berada pada kelompok usia produktif yang sangat rentah terpapar HIV/AIDS.

Koordinasi dengan DPRD dan Komunitas

Sementara itu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Tasikmalaya mencatat selama 2 tahun berturut-turut, yakni tahun 2022 dan tahun 2023, mencatat angka di level tinggi yakni masing-masing 145 kasus. Puncaknya yakni tahun 2024 mencapai 169 kasus dan penurunan kasus terjadi tahun 2025 yakni 136 kasus.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim SH saat dihubungi mengaku prihatin dengan kondisi tersebut, apa lagi korban yang terpaparnya di dominasi generasi muda. Kata Aslim, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Komisi yang terkait dengan Dinas Kesehatan agar bisa melakukan langkah-langkah pencegahan.

Menurut Aslim, pihaknya pun akan melakukan koordinasi dengan Wali Kota untuk mencari solusi agar masalah ini tidak terus menyebar. Karena, lanjut Aslim, generasi muda atau mereka yang berada di usia produktif itu harus segera diselamatkan dari ancaman terpapar HIV/AIDS.

“Saya kira ini harus sesegera mungkin diantisipasi agar generasi muda Kota Tasikmalaya bisa terbebas dari ancaman penyakit HIV/AIDS. Saya berharap juga agar setiap keluarga mampu mengawasi anggota keluarganya terutama anak-anak yang berada pada posisi usia produktif,” kata Aslim.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan