Wagub NTT Soroti Dampak Rokok dan Miras pada Ekonomi Keluarga dan Stunting

Wagub NTT Soroti Dampak Rokok dan Miras pada Ekonomi Keluarga dan Stunting

Wakil Gubernur NTT Ajak Masyarakat Mengurangi Kebiasaan Buruk

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga. Ia menekankan pentingnya mengurangi konsumsi siri pinang, rokok, minuman keras (miras), serta judi online. Menurutnya, kebiasaan tersebut memiliki dampak yang sangat merugikan, baik secara ekonomi maupun kesehatan.

Johni menyatakan bahwa pengeluaran harian untuk kebiasaan-kebiasaan ini cukup besar dan seharusnya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, terutama gizi anak-anak. Ia mencontohkan bahwa uang sebesar Rp 50 ribu per hari yang biasanya digunakan untuk membeli pinang, rokok, dan miras bisa digunakan untuk membeli makanan bergizi seperti telur, daging, ikan, dan sayur.

Dampak pada Ekonomi Keluarga dan Kesehatan Anak

Kebiasaan mengonsumsi siri pinang, rokok, dan miras tidak hanya menguras anggaran keluarga, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan. Johni menjelaskan bahwa uang yang digunakan untuk kebiasaan ini bisa menjadi investasi untuk kesehatan anak-anak, terutama dalam mengurangi tingginya angka stunting di NTT.

Ia menilai, jika pola pikir orang tua berubah, maka dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan akan terlihat perubahan perilaku di masyarakat. Perubahan ini akan berdampak positif pada kualitas SDM, kesehatan anak, dan masa depan NTT secara keseluruhan.

Pengeluaran untuk Pinang yang Sangat Besar

Selain itu, Johni juga menyebutkan bahwa besarnya perputaran uang untuk pembelian pinang mencapai Rp 1 triliun. Angka ini dinilai sangat besar dan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih produktif, seperti pembangunan infrastruktur atau pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, kebiasaan orang tua yang lebih memprioritaskan rokok, pinang, dan miras dibandingkan pemenuhan gizi anak adalah salah satu penyebab tingginya angka stunting di NTT. Ia menegaskan bahwa konsumsi rokok dan miras berdampak buruk bagi kesehatan anak, bahkan sejak masih berada dalam kandungan.

Perubahan Kebiasaan Membutuhkan Keberanian

Johni mengakui bahwa perubahan kebiasaan di masyarakat sering kali memunculkan penolakan. Namun, ia meminta para orang tua berani berkorban demi masa depan anak-anak mereka. Ia menanyakan, apakah orang tua ingin anak mereka sehat dan memiliki masa depan, atau justru ingin anak-anak mereka tidak sehat dan stunting.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci masa depan NTT dan Indonesia. Johni menyatakan bahwa sekalipun daerah tersebut kaya akan sumber daya alam, jika SDM-nya kurang, maka NTT dan Indonesia akan sulit berkembang.

Masalah Lingkungan dari Kebiasaan Menyembur Pinang

Selain aspek ekonomi dan kesehatan, Johni juga menyoroti kebiasaan menyembur pinang sembarangan yang dinilai mengganggu kebersihan lingkungan dan berpotensi menimbulkan penyakit. Banyak masyarakat yang makan pinang lalu menyemburnya di mana-mana, yang membuat lingkungan menjadi kumal dan berisiko menyebar penyakit.

Dengan ajakan ini, Johni berharap masyarakat NTT dapat lebih sadar akan dampak negatif dari kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dianggap wajar. Ia percaya bahwa perubahan kecil yang dilakukan saat ini akan berdampak besar pada masa depan generasi mendatang.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan