Wali Kota Semarang Awasi Kenaikan Harga Cabai


Pengendalian Harga Pangan di Semarang: Fokus pada Cabai dan Stabilitas Ekonomi

Peran Cabai dalam Stabilitas Harga Pangan

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan bahwa pengendalian harga pangan, khususnya cabai, menjadi salah satu prioritas utama pemerintah kota. Ia menyoroti bahwa harga cabai sempat mencapai lebih dari Rp80.000 per kilogram di Pasar Karangayu.

Harga cabai sudah di atas Rp80.000. Tidak bisa, karena masyarakat Kota Semarang itu kalau makan nggak pedas sama dengan makan sesuatu nggak pakai garam. Itu sudah lifestyle, ujarnya.

Menurut Agustina, kebutuhan masyarakat terhadap cabai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pemerintah kota berupaya keras untuk menjaga stabilitas harga agar tidak mengganggu daya beli masyarakat.

Program Pengendalian Inflasi

Untuk menjaga stabilitas harga, Pemkot Semarang melibatkan dua program utama, yaitu Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman (Pak Rahman) serta Ketahanan Pangan Keliling Semarang (Kempling Semarang). Kedua program ini dirancang untuk menggelar operasi pasar langsung di lokasi yang mengalami kenaikan harga, termasuk di Pasar Karangayu.

Agustina menilai bahwa kolaborasi lintas pihak sangat penting dalam menjaga inflasi. Gotong royong ini membuat Semarang tangguh terhadap rencana inflasi, katanya. Ia juga menyebut bahwa Kota Semarang mendapat apresiasi karena berhasil mengendalikan inflasi secara baik.

Analisis Ekonomi oleh Ahli

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, Firmansyah, memberikan analisis terkait bobot komoditas cabai dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Menurutnya, cabai memiliki bobot hingga 30% dalam perhitungan inflasi.

Cabai ini sendiri bobotnya dalam makanan dan minuman itu sampai 30% loh, bobotnya dalam menghitung inflasi. Cabai ini sangat menentukan, ujar Firmansyah dalam forum Outlook Ekonomi Semarang 2026.

Ia menjelaskan bahwa dominasi komoditas pangan dalam pembentukan inflasi selaras dengan struktur perekonomian Kota Semarang yang masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga. Kontribusi konsumsi terhadap PDRB pengeluaran tercatat stabil di kisaran 40 persen. Kalau investasi masuk, sektor yang pertama bergerak itu konsumsi, tambahnya.

Inflasi dan Tekanan Harga

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Semarang. Tekanan harga pada bahan pangan dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama karena konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kota.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang mencatat bahwa inflasi pada November 2025 secara tahunan sebesar 2,92 persen (year on year/y-o-y) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,64 poin. Angka ini meningkat dibanding November 2024 yang tercatat sebesar 105,56 poin.

Inflasi tahunan ini disebabkan oleh kenaikan harga pada sepuluh kelompok pengeluaran, termasuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,40%.

Komoditas yang Mempengaruhi Inflasi

Dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, beberapa komoditas dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi secara tahunan pada November 2025. Di antaranya adalah cabai merah, beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), telur ayam ras, dan santan jadi.

Cabai merah dan beras menjadi komoditas yang diperhatikan khusus karena bobotnya yang besar dalam konsumsi rumah tangga dan sangat sensitif terhadap perubahan pasokan pangan. Hal ini menjadikannya sebagai fokus utama pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan