
Kritik dan Harapan Wali Kota Surabaya terhadap Transformasi Danantara
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi atau Cak Eri, menegaskan bahwa kehadiran super holding BUMN, Danantara, harus memberi manfaat nyata bagi daerah. Ia menekankan pentingnya penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi lokal sebagai bagian dari transformasi BUMN.
Cak Eri berharap pembentukan Danantara mampu membawa kontribusi nyata bagi daerah yang selama ini menjadi lokasi beroperasinya berbagai BUMN strategis. Dalam acara Round Table Discussion (RTD) bertajuk “Peta Baru Ekonomi Pasca Reformasi BUMN: Jawa Timur Dapat Apa?” di Surabaya, ia menyampaikan bahwa daerah belum merasakan dampak signifikan baik dari sisi pendapatan maupun serapan tenaga kerja.
“Ketika ada transformasi Danantara, apakah bisa memperkuat UMKM secara makro? Bagi kami daerah, apa yang kami dapat dari Danantara dan BUMN itu?” tanya Cak Eri.
Aset BUMN di Kota Lama Disorot
Cak Eri juga menyinggung bangunan-bangunan milik BUMN di kawasan Kota Lama Surabaya, yang dinilai tidak produktif. Menurutnya, transformasi Danantara harus menggerakkan potensi aset ini untuk menghidupkan ekonomi lokal.
“Sejumlah bangunan yang tidak bergerak di Kota Lama itu milik BUMN. Intinya bagaimana transformasi Danantara menggerakkan semua potensi itu, dan menyerap lapangan pekerjaan nyata,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa setiap pembangunan oleh BUMN harus mensyaratkan keterlibatan tenaga kerja lokal. “Kalau penyerapan pekerjaan bisa diwujudkan, saat itulah BUMN menjadi bagian dari pergerakan ekonomi daerah,” tambahnya.
Keluhan tentang Pemasangan Infrastruktur BUMN
Cak Eri juga menyoroti pemasangan ducting kabel oleh BUMN di Surabaya, yang sering merusak jalan dan infrastruktur kota. Ia menilai BUMN perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menghindari kerugian publik.
“Ini buat negara, tapi kota saya rusak. Hari ini buka jalan pasang kabel, besok buka lagi. Saya buat aturan diprotes, tapi kalau tidak begitu Surabaya yang menanggung,” keluh Cak Eri.
Apresiasi terhadap Pengelolaan Energi Sampah
Di sisi lain, Cak Eri mengapresiasi rencana Danantara mengambil alih pengelolaan energi dari sampah, yang dinilai dapat mengurangi beban anggaran daerah. Ia menyebut kolaborasi semacam itu harus mampu meratakan pertumbuhan industri, tidak hanya terpusat di kota besar.
“Daerah harus jadi sub-owner. Kita kembangkan bersama, tidak ujug-ujug semua ditarik pusat,” tegas Cak Eri.
Emil Dardak: Danantara Harus Atasi Friksi Klasik Pusat–Daerah
Senada dengan Cak Eri, Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim), Emil Elestianto Dardak, menilai Danantara harus mampu menjembatani persoalan klasik antara BUMN dan pemerintah daerah, mulai dari aset, perizinan hingga infrastruktur bawah tanah.
“BUMN itu punya captive area, tapi apa pun tetap harus melalui pemerintah daerah,” ujar Emil.
Ia bahkan menyinggung ribuan bidang tanah yang tiba-tiba diklaim BUMN, menimbulkan persoalan hukum bagi warga. “Ini rumah-rumah kecil, pemilik lahan kecil. Tiba-tiba lahannya diklaim milik Pertamina,” ungkapnya.
Emil menambahkan bahwa super holding BUMN dibentuk untuk membuat BUMN lebih efisien, tanpa meninggalkan misi pelayanan publik. “Optimisme ini masih butuh kerja keras agar Pemda menjadi subjek proses, bukan hanya penonton,” tandasnya.
Forum RTD Dihadiri Sejumlah Tokoh Nasional
Forum RTD yang digelar Nagara Institute dan Akbar Faizal Uncensored itu turut menghadirkan Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, akademisi Unair Prof Dr Imron Mawardi, serta pakar ekonomi Ferry Latuhihin sebagai narasumber.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar