
Warga Garut yang Viral karena Jalan Rusak Diancam oleh Keluarga Kades
Holis Muhlisin (31) menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang menunjukkan dirinya menerima tekanan dari keluarga kepala desa beredar di media sosial. Peristiwa ini terjadi setelah Holis kerap membagikan kondisi infrastruktur jalan rusak di wilayah tempat tinggalnya.
Holis tinggal di Kampung Babakangadoh, RT01 RW06, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Video dugaan intimidasi tersebut diunggah melalui akun Facebook pribadinya dan viral, dengan jumlah penayangan yang mencapai lebih dari satu juta kali.
Dalam tayangan video itu, Holis tampak menerima perlakuan tidak menyenangkan berupa makian dari sejumlah anggota keluarga kepala desa. Bahkan, terdengar beberapa ucapan bernada penghinaan yang diarahkan kepadanya.
Saat dihubungi Tribun, Holis mengatakan bahwa dirinya tidak hanya mendapatkan intimidasi, tetapi juga dilaporkan ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik. Ia mengatakan, sudah melakukan konfirmasi ke Polsek dan mereka membenarkan bahwa dirinya dilaporkan oleh keluarga kepala desa.
“Saya sudah coba konfirmasi ke Polsek, betul katanya saya dilaporkan oleh keluarga kepala desa, atas pencemaran nama baik,” ujarnya melalui sambungan telpon, Sabtu (3/1/2025).
Ia menuturkan, hingga kini laporan yang disampaikannya belum menunjukkan perkembangan yang jelas. Bahkan, dirinya mengaku belum pernah dipanggil maupun dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.
“Kata polisi bakal diriungkeun (musyawarah) tapi sampai sekarang tidak pernah,” ucapnya.
Holis mengaku kesehariannya merupakan seorang pedagang telur keliling yang setiap hari berkeliling dari kampung ke kampung. Dalam aktivitasnya tersebut, ia kerap melintasi berbagai ruas jalan yang kondisinya rusak, berlubang, dan sulit dilalui.
Ia menuturkan, kondisi jalan yang memprihatinkan itu tidak jarang menyulitkan dirinya saat berdagang, bahkan berisiko merusak kendaraan. Berangkat dari pengalaman tersebut, ia kemudian sering mengunggah keprihatinannya terhadap kondisi jalan melalui media sosial, dengan harapan keluhan itu dapat menjadi perhatian pihak terkait termasuk pemerintah desa agar segera dilakukan perbaikan.
“Tidak hanya untuk saya sendiri, tapi demi kemajuan desa demi masyarakat desa,” ungkapnya.
Gubernur Jabar Minta Aparat Desa Terima Kritik dengan Lapang Dada
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga telah merespons video viral tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah setingkat desa hingga rukun warga harus menjaga sikap lapang dada dalam menerima kritik pembangunan yang belum berkeadilan.
“Jangan pernah melakukan intimidasi (atau) pengancaman, dalam dunia yang sudah serba terbuka,” tulisnya dalam unggahan Instagram pribadinya, Sabtu (3/1/2026) malam.
Menurut Dedi, semua pihak harus berusaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan karena saat ini sudah bukan zamannya mencaci maki orang yang mengkritik kinerja pemerintah. Ia berharap peristiwa di Kecamatan Cisewu tidak kembali terjadi di kemudian hari.
Ia memerintahkan pemerintah di Cisewu dan Bupati Garut agar melakukan rekonsiliasi dan perbaikan pembangunan. “Jangan membiarkan ada tindakan intimidatif terhadap kritik,” tandasnya.
Penyebab Kritik yang Dianggap Mengganggu
Holis mengungkapkan bahwa kritiknya terhadap jalan rusak adalah bentuk kepeduliannya terhadap masyarakat. Ia menilai bahwa jalan yang rusak tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun, kritik ini justru dianggap sebagai ancaman oleh pihak tertentu, sehingga membuat Holis merasa tak nyaman dan khawatir akan tindakan lebih lanjut. Ia berharap pihak berwajib segera menyelesaikan kasus ini dengan transparan dan adil.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar