Warga Kumpulkan 15 Juta dari TikTok untuk Perbaiki Jalan Desa, Meski Pemkab Punya 1,5 Miliar

Warga Kumpulkan 15 Juta dari TikTok untuk Perbaiki Jalan Desa, Meski Pemkab Punya 1,5 Miliar

Aksi Warga Sumenep Kumpulkan Dana dari Live TikTok untuk Perbaiki Jalan Desa

Di tengah kekhawatiran terhadap kondisi jalan yang rusak, warga Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, melakukan aksi luar biasa. Mereka menggalang dana melalui live TikTok untuk memperbaiki jalan poros desa yang sudah rusak selama bertahun-tahun.

Jalan sepanjang 250 meter ini menjadi jalur vital bagi masyarakat setempat, termasuk aktivitas pertanian, pendidikan, dan ekonomi. Namun, kerusakan jalan tidak kunjung mendapat perhatian dari Pemerintah Desa (Pemdes) maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Akibatnya, warga memilih untuk bertindak sendiri.

Koordinator warga, Abusairi, menjelaskan bahwa kerusakan jalan telah berlangsung lebih dari satu dekade. Beberapa titik lubang cukup dalam dan membahayakan pengendara, khususnya sepeda motor dan anak-anak yang berangkat sekolah.

“Sudah sekitar sepuluh tahun lebih kondisinya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya akses,” ujar Abusairi.

Dana dari Live TikTok

Untuk memperbaiki jalan, warga menggunakan pasir dan sirtu untuk menambal lubang, serta rabat beton sederhana di titik paling rawan. Semua biaya berasal dari iuran warga dan donasi lewat siaran langsung di TikTok, dengan total dana sekitar Rp 15 juta.

Namun, kontrasnya, Desa Pragaan Laok menerima Dana Desa yang sangat besar dalam lima tahun terakhir:

  • 2021: Rp 1,15 miliar
  • 2022: Rp 1,31 miliar
  • 2023: Rp 1,39 miliar
  • 2024: Rp 1,64 miliar
  • 2025: Rp 1,51 miliar

Total dana mencapai Rp 7,03 miliar. Dana tersebut seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar, termasuk jalan. Namun, hingga hampir satu dekade, jalan poros desa belum tersentuh pembangunan.

Abusairi menegaskan bahwa hingga saat ini, tidak pernah ada perbaikan yang dilakukan oleh pihak pemerintah. Oleh karena itu, warga memilih untuk bertindak demi keselamatan dan kelancaran aktivitas sehari-hari.

Aksi Serupa di Tempat Lain

Tidak hanya di Sumenep, peristiwa serupa juga terjadi di Desa Talipukki, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Jalan yang rusak parah akhirnya diperbaiki sendiri oleh warga karena pemerintah tidak kunjung merespons keluhan mereka.

Warga Desa Talipukki bergotong royong memperbaiki jalan dengan alat seadanya. Mereka menggali ruas jalan agar genangan air dapat mengalir dan tak lagi membahayakan pengguna jalan. Aksi ini merupakan bentuk protes warga kepada pemerintah yang dinilai tidak peduli terhadap kondisi jalan di wilayah mereka.

Genangan air membuat badan jalan berlubang dan menyerupai kubangan kerbau, rawan menyebabkan kecelakaan. Salah satu warga, Nurdin, mengatakan bahwa kondisi jalan rusak ini menyebabkan hampir setiap hari ada pengendara yang jatuh karena terperosok.

“Sudah rusak bertahun-tahun dan sudah berulang kali diadukan ke pemerintah, tapi tak kunjung ada perbaikan,” jelas Nurdin.

Jalan yang rusak ini merupakan akses utama penghubung Kabupaten Polman, Majene, dan Mamasa dengan panjang kerusakannya diperkirakan lebih dari dua kilometer. Jalur ini juga satu-satunya akses dari Kota Mamasa menuju Desa Pamoseang dan Desa Indo Banua.

Kondisi jalan semakin diperparah saat musim hujan. Air menggenang di lubang-lubang besar, membuat jalanan licin dan rawan kecelakaan. Beberapa ruas jalan bahkan tidak memiliki penerangan malam hari, memperbesar risiko bagi pengendara.

Warga berharap ada tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi jalan tersebut. Apalagi hal itu menyangkut keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat.

“Kalau dibiarkan terus seperti ini, kecelakaan akan terus terjadi dan aktivitas warga semakin terganggu,” kata Nurdin.

Kesimpulan

Aksi warga Sumenep dan Mamasa menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam membangun lingkungan mereka sendiri. Meskipun dana yang tersedia cukup besar, penyalurannya tidak sesuai harapan. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk lebih responsif dan transparan dalam mengelola anggaran daerah. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan kondisi infrastruktur dapat diperbaiki secara berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan