Warga, Pedagang, dan Sopir Tolak Depo BRT Terminal Cicaheum


KOTA BANDUNG – Rencana alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo moda transportasi Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya mendapat penolakan dari berbagai pihak. Terbaru, gabungan pedagang hingga perusahaan angkutan (PO Bus) di Terminal Cicaheum menolak rencana pemindahan lokasi ke Leuwipanjang.

Pantauan di lokasi menunjukkan spanduk penolakan yang bertuliskan "Kami warga Terminal Cicaheum menolak keras Terminal Cicaheum dipindahkan" terpasang di setiap sudut. Spanduk tersebut dipasang oleh warga yang mencari nafkah di Terminal Cicaheum.

Salah seorang pekerja PO Bus di Terminal Cicaheum, Roni (47 tahun), mengatakan bahwa kabar terkait perubahan fungsi Terminal Cicaheum sudah digaungkan sejak Kota Bandung dibawah kepemimpinan Dada Rosada dan Ridwan Kamil. Namun, rencana itu tidak terealisasikan dan sempat meredup.

Namun, pada 2025, rencana tersebut kembali muncul. Kabar ini membuat warga Terminal Cicaheum, termasuk para pekerja di PO bus hingga pedagang, merasa resah.

Roni menjelaskan bahwa mereka menggantungkan hidup di sana. Karena keresahan itu, warga Terminal Cicaheum menolak perubahan fungsi menjadi depo BRT.

"Kami menolak itu, bukan hanya menolak secara pribadi untuk perwakilan bis, ini mewakili semua yang ada elemen masyarakat di Terminal Cicaheum. Termasuk di sini pedagang ini mau dikemanain. Jadi lebih kepada dampak sosialnya ini," ujar Roni ditemui di Terminal Cicaheum, Sabtu (13/12/2025).

Selain spanduk penolakan, juga ada petisi yang ditandatangani oleh masyarakat yang menolak Terminal Cicaheum berubah fungsi. Jika Terminal Cicaheum berubah menjadi depo BRT, maka tidak akan menyediakan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Layanan tersebut rencananya akan dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang. Penumpang dari luar kota pun otomatis akan berpindah ke Terminal Leuwipanjang.

Menurutnya hal tersebut akan sangat berdampak pada pengusaha bus dan pedagang. Itu karena penumpang bus menjadi target utama pasar mereka.

"Kami di sini dari tahun 2000, berarti sekarang 2025, kami hampir 20 tahun di sini. 90% di sini menjadi barometer untuk kepentingan di keluarganya. Tidak ada kerja yang lain sampingan."

"Cuma pedagang-pedagang di sini untuk dia pulang ke rumahnya, mengandalkan di sini. Sama, dari pihak perwakilan bus juga sama seperti itu. Tidak ada pekerjaan yang lain. 100% kami menafkahi anak, istri, keluarga dari Terminal Cicaheum," ucapnya.

Dia menyebut, pemerintah belum mensosialisasikan secara langsung terkait rencana perubahan itu. Ia juga menyoroti tidak ada jaminan yang diberikan oleh pemerintah apabila peralihan fungsi Terminal Cicaheum terealisasi.

"Pemerintah harus bisa menganalisa sampai ke situ. Bukan ada aturan harus pindah-pindah. Jangan begitu dong. Kami masyarakat. Kami masyarakat yang wajib kalian bela. Jadi jangan segampang itu. Jadi harus ada sosialisasi yang jelas, terarah, teratur. Kalau direalisasikan, yang jelas," bebernya.

Daripada fungsinya diubah, ia lebih menyarankan agar Terminal Cicaheum mendapat sentuhan revitalisasi. Langkah ini menurutnya dapat menggenjot aktivitas di terminal yang sudah ada sejak 1974.

"Untuk harapannya mungkin dari pribadi saya bisa mewakili semua yang ada keluarga di sini. Justru ke depannya kami mengharapkan tidak pindah, tapi diatur yang lebih benar-benar tidak mencerminkan kekumuhannya," tegasnya.

Sebagai informasi, pemerintah berencana mengubah Terminal Cicaheum menjadi depo BRT atau Metro Jabar Trans (MJT). Terminal Tipe A Leuwipanjang juga tengah dipersiapkan untuk menjadi pusat bus lintas kota dan provinsi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan