Kehidupan Yohani Lasa, Penenun Berpenghasilan Tinggi di Kota Kupang

Pukul 21.05 Wita, di sebuah rumah berwarna hijau di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), suara gemericik dari alat tenun tradisional terdengar berulang kali. Suara itu berasal dari helai benang yang disilangkan di atas alat tenun. Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya duduk dengan posisi tegak, tubuhnya sedikit condong ke depan, jemarinya cekatan mengatur setiap helai benang.
Dialah Yohani Lasa (53), seorang ibu rumah tangga yang menjadikan kain tenun sebagai sumber penghidupan keluarganya. Setiap hari, ia menenun dengan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa. Aktivitas ini dimulai sebelum fajar tiba. Pukul 03.00 Wita, ketika sebagian besar warga masih tertidur, Yohani sudah bangun dan kembali duduk di depan alat tenun. Meski matanya mulai rabun akibat usia, ia tetap fokus mengikuti pola yang ia buat.
Ia menenun hingga pukul 06.00 Wita, kemudian bergegas menyiapkan kebutuhan anak-anak sekolah, mengurus dapur, dan beristirahat sejenak. Menjelang pukul 11.00 Wita, ia kembali melanjutkan tenunannya. Malam hari, ia kembali duduk hingga pukul 23.30 Wita. Aktivitas ini dilakoninya setiap hari tanpa jeda panjang atau keluh kesah.
“Dulu waktu masih muda, dua minggu saya bisa menyelesaikan satu kain. Sekarang karena usia, sebulan baru jadi sepasang bete, tais, dan dua selendang,” katanya sambil tersenyum kecil.
Belajar dari Garis Tangan Keluarga
Yohani mulai menenun sejak usia 16 tahun. Ia belajar dari kakak sulungnya, yang sebelumnya belajar langsung dari ibunya. Tradisi ini mengalir seperti darah, tenang, namun tak pernah putus. Motif yang sering ia buat adalah motif Fatukoa atau Bete Sonbai, motif khas Kota Kupang yang banyak dicari pembeli.
Yohani lebih fasih dalam menenun sotis karena prosesnya lebih cepat dibanding tenun ikat yang memerlukan pemintalan, penjemuran, pewarnaan, hingga pembuatan pola yang rumit. Untuk satu pasang tenun sotis, terdiri dari satu selimut, satu sarung, dan dua selendang, Yohani menjualnya antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Modalnya sekitar Rp 750.000.
“Kalau tenun ikat, prosesnya jauh lebih panjang. Tapi selera pembeli macam-macam, jadi saya ikut saja pesanan mereka,” katanya.
Tenunan sebagai Sumber Penghidupan
Tenunan Yohani tidak lagi sekadar karya seni tradisi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan utama keluarga. Dari hasil menenun, ia mampu membiayai pendidikan lima anaknya dan dua keponakan yang tinggal bersamanya. Dua anaknya yang sedang kuliah pun seluruh biaya ditopang dari hasil penjualan kain.
Selain itu, dengan tekad yang ia lilit pada tiap helai benang, Yohani berhasil membangun rumah permanen yang cukup besar untuk keluarganya, selain dari penghasilan suaminya yang bekerja serabutan. “Semua dari hasil tenun saja. Pelan-pelan, asal sabar, bisa jadi,” ujarnya bangga.
Pesanan Mengalir, Warisan yang Menyusut
Kain dan selendang yang ia hasilkan sering dipasok ke toko tenun di Kupang serta dipesan untuk keperluan pernikahan dan acara adat. Banyak pembeli mengetahui hasil karyanya hanya dari cerita mulut ke mulut. Item yang paling cepat laku adalah selendang. Dalam sebulan, ia mampu membuat sekitar 20 selendang, masing-masing dijual Rp 50.000.
Namun di balik tingginya permintaan, Yohani menyimpan kegelisahan. Di Kelurahan Fatukoa, ia bercerita, hanya tiga penenun yang masih bertahan. “Adik-adik dan anak-anak sekarang banyak yang sibuk. Menenun itu butuh sabar. Tidak semua mau,” katanya lirih.
Karena itu, ia kini perlahan mengajarkan keahlian ini kepada anak-anaknya. Harapannya sederhana namun dalam, agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman. “Saya mau generasi muda belajar menenun. Supaya budaya kita tetap hidup. Ini bukan hanya soal kain, tetapi jati diri,” ujarnya.
Ketenangan di Tengah Perubahan
Dalam setiap helai tenun yang keluar dari tangan Yohani, tersimpan kisah ketekunan, cinta keluarga, dan warisan budaya yang terus ia jaga. Di tengah modernisasi yang menyeret anak-anak muda dari tradisi, Yohani tetap duduk teguh di depan alat tenunnya, membiarkan benang-benang itu menjadi saksi bagaimana seorang ibu membangun masa depan keluarganya dengan kesabaran yang nyaris tak pernah putus.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar