
Lonjakan Kasus ISPA di Lokasi Pengungsian Pasca-Banjir dan Longsor
Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera telah memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama karena risiko penularan virus pernapasan yang tinggi di lingkungan pengungsian.
ISPA adalah infeksi yang terjadi pada saluran pernapasan atas maupun bawah, dengan gejala seperti batuk, pilek, dan demam. Penyakit ini sangat mudah menyebar, terutama dalam kondisi yang tidak ideal seperti pengungsian. Dicky Budiman, ahli kesehatan masyarakat, menjelaskan bahwa banjir bukan hanya menjadi penyebab penyakit pencernaan atau kulit, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko ISPA, terutama pada anak-anak.
ISPA Bisa Melonjak Cepat 48–72 Jam Pertama Pascabencana
Menurut Dicky, kondisi pengungsian merupakan tempat yang paling rentan untuk penyebaran virus pernapasan. Kepadatan tenda, ventilasi minim, dan ruangan tertutup menciptakan lingkungan yang ideal bagi penularan. Anak-anak, yang sering berkumpul dan bermain di ruang yang sama, menjadi sasaran utama penyebaran virus seperti influenza, Virus Sinsitial Pernapasan (RSV), dan rhinovirus.
Dalam riset pascabencana di Asia, ditemukan bahwa ISPA cenderung melonjak cepat dalam 48–72 jam pertama setelah banjir. Hal ini menunjukkan pentingnya tindakan cepat untuk mengurangi risiko penyebaran.
Lingkungan Lembap dan Polusi Dapur Memperburuk Kondisi
Selain kerumunan, suhu dingin dan kelembapan tinggi yang muncul setelah banjir turut memperkuat stabilitas virus di udara dan permukaan. Paparan udara dingin juga dapat menyebabkan iritasi saluran napas pada anak dan menurunkan fungsi silia, yang berperan dalam membersihkan saluran pernapasan.
Polusi dalam ruangan, seperti asap dapur, juga menjadi faktor yang sering terabaikan. Banyak keluarga memasak di tenda atau ruang darurat, sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Dicky menegaskan bahwa kondisi lembab dan dingin serta asap dapur di pengungsian memperburuk saluran napas dan menjadi trigger dari ISPA.
Stres dan Akses Layanan Kesehatan yang Terbatas
Stres akibat bencana, kurang tidur, dan asupan nutrisi yang tidak memadai turut menurunkan daya tahan tubuh anak. Akses layanan kesehatan yang terbatas membuat batuk pilek ringan tidak tertangani dengan cepat, sehingga berpotensi berkembang menjadi ISPA berat.
Mengapa Kasus Diare atau Penyakit Kulit Tidak Langsung Meningkat?
Menurut Dicky, penyakit pencernaan memiliki masa inkubasi lebih panjang. Jika distribusi air bersih dan fasilitas sanitasi darurat cepat tersedia, lonjakan kasus bisa tertahan. Sementara penyakit kulit lebih dipengaruhi paparan air banjir berkepanjangan. Namun, banyak anak segera dievakuasi, sehingga paparan lebih pendek, dan fasilitas mandi darurat di sebagian lokasi membantu menekan kasus.
Kelompok Usia Balita Paling Rentan
Dicky menekankan bahwa anak di bawah lima tahun adalah kelompok dengan risiko tertinggi, bahkan 2–4 kali lipat lebih besar untuk terinfeksi ISPA dalam kondisi pengungsian yang padat dan lembap. Anak usia kurang dari 5 tahun itu kelompok paling rentan, dan risiko meningkat 2–4 kali lipat di lingkungan pengungsian yang padat dan lembab.
Langkah-Langkah yang Perlu Dilakukan
Melihat situasi ini, Dicky menilai intervensi cepat harus menjadi prioritas, terutama selama masa kritis pascabencana. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:
- Memperbaiki ventilasi di posko
- Mengurangi kepadatan tenda pengungsian
- Membuat zonasi ruang tidur anak
- Menyediakan masker untuk anak-anak
- Pemantauan harian gejala ISPA di posko
- Edukasi batuk bersih dan kebersihan tangan
Selain itu, area bermain terbuka sangat penting agar anak-anak tidak berkumpul di ruang tertutup yang berisiko tinggi menularkan infeksi. Pengendalian polusi asap dapur juga perlu diperhatikan, termasuk memastikan pakaian anak tetap kering agar mereka tidak kedinginan.
Prioritas Utama untuk Anak-Anak
Dicky menegaskan bahwa dalam situasi bencana, anak-anak harus mendapat prioritas tertinggi. Ketersediaan nutrisi, pakaian kering, akses kesehatan awal, hingga dukungan emosional adalah komponen penting untuk mencegah kondisi semakin buruk.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar