
Mengontrol asupan garam harian sangat penting karena natrium sering tersembunyi dalam berbagai produk yang kita konsumsi sehari-hari. Banyak orang tidak menyadari bahwa kandungan garam yang tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi, terutama pada ibu hamil.
Dokter Spesialis Gizi Klinis, dr. Verawati Sudarma, M.Gizi, SpGK, menjelaskan bahwa garam dalam informasi nilai gizi sering tercantum dengan berbagai istilah. Pada produk berbahasa Indonesia biasanya ditulis sebagai natrium, sementara produk berbahasa Inggris menggunakan kata sodium. Beberapa produk juga mencantumkan salt, tetapi yang paling menentukan tetap jumlah natriumnya.
Batas Garam Harian: Dokter Gizi Jelaskan Cara Cerdas Memilih Produk

Menurut dr. Verawati, batas aman konsumsi garam harian adalah 2.300 mg natrium. Karena itu, membaca label gizi menjadi sangat penting. Ia menyarankan konsumen untuk memperhatikan persentase angka kecukupan natrium dalam setiap sajian produk.
“Kembali lagi patokannya adalah kalau patokannya seperti label, tolong dicari yang di bawah 5%. Kalau sudah di atas 20% artinya tinggi,” ucapnya dalam acara aiotradeMOM Mom’s Meet Up bekerja bersama Nestlé Indonesia, di Jakarta Selatan, Selasa (10/12).
Sumber Garam Tinggi di Makanan Sehari-Hari
Ia juga menjelaskan bahwa natrium tinggi paling sering ditemukan pada produk yang umum dikonsumsi sehari-hari. Saus dan sambal menjadi salah satu sumber terbesar karena rata-rata mengandung natrium dalam jumlah tinggi. Snack yang asin pun hampir pasti mengandung tambahan natrium.

Selain itu, makanan olahan yang dipanggang terutama yang menggunakan mentega atau butter, juga cenderung memiliki kadar natrium tinggi. Produk kemasan lain yang memiliki rasa gurih juga perlu diwaspadai.
Banyak orang mengira kaldu adalah pilihan sehat karena terkesan “alami”, padahal berbagai jenis bubuk kaldu, bumbu instan, hingga penyedap rasa, tetap mengandung natrium tinggi yang berpotensi menumpuk dalam konsumsi harian.
“Berbagai macam kaldu kesannya sehat nih, tapi sebenarnya sama saja,” ucap dr. Vera.

dr. Vera mengingatkan bahwa pembahasan soal garam tidak bisa dilepaskan dari risiko hipertensi, terutama pada ibu hamil. Ia mengatakan bahwa larangan makan mi instan bagi ibu hamil sebenarnya bukan karena mi instannya, tetapi karena kandungan natriumnya yang sangat tinggi.
“Kadang-kadang ibu-ibu kan suka dibilang ‘kalau lagi hamil nggak boleh makan mi instan’ padahal bukan masalah mi instannya, tapi natriumnya yang tinggi. nah itu kadang-kadang bengkaknya lebih cepat, bisa terjadi preeklamsia,” pungkasnya.
Tips Mengurangi Konsumsi Natrium
Berikut beberapa cara efektif untuk mengurangi konsumsi natrium dalam kehidupan sehari-hari:
-
Baca label gizi secara seksama
Periksa komposisi makanan yang dikonsumsi, terutama produk kemasan. Fokus pada jumlah natrium per sajian dan hindari produk yang memiliki persentase di atas 20%. -
Kurangi penggunaan garam dalam masakan
Gunakan bumbu alami seperti jahe, cabai, atau rempah-rempah untuk memberi rasa tanpa harus menambahkan garam. -
Hindari makanan siap saji dan makanan olahan
Makanan olahan seperti sosis, keju, dan makanan kaleng biasanya kaya akan natrium. Pertimbangkan untuk membuat sendiri makanan yang lebih sehat. -
Gunakan alternatif garam
Beberapa produk seperti garam rendah natrium atau garam herbal bisa menjadi pilihan yang lebih sehat. Namun, tetap perhatikan kandungan natriumnya. -
Perbanyak konsumsi buah dan sayuran segar
Buah dan sayuran segar alami rendah natrium dan kaya akan nutrisi yang bermanfaat untuk kesehatan jantung.
Pentingnya Kesadaran akan Natrium
Kesadaran akan kandungan natrium dalam makanan sangat penting, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil. Dengan memahami cara membaca label gizi dan memilih produk yang lebih sehat, kita bisa mengurangi risiko gangguan kesehatan yang disebabkan oleh konsumsi natrium berlebihan.
Selain itu, masyarakat juga perlu lebih waspada terhadap makanan yang terlihat sehat namun ternyata mengandung natrium tinggi. Misalnya, kaldu, bumbu instan, dan penyedap rasa sering kali dianggap aman, padahal kandungan natriumnya bisa sangat tinggi.
Dengan kesadaran yang lebih baik, kita dapat menjaga kesehatan jangka panjang dan mengurangi risiko penyakit seperti hipertensi dan preeklamsia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar