
Webinar Nasional: Membangun Citra Diri Profesional di Era Digital
ASM Ariyanti menggelar webinar nasional dengan tema "Membangun Citra Diri Profesional di Era Digital: Kunci Sukses di Dunia Kerja" pada 13 Desember 2025. Acara ini menghadirkan Lina Wiyarsih, S.Sos., M.I.Kom, sebagai narasumber utama. Webinar ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan turut dihadiri oleh Direktur ASM Ariyanti, Yana Sonjaya, S.Pd., M.M., serta Dr. Tatiek Ekawati Permana, S.Sos., M.M., yang memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan webinar secara online.
Dalam sambutannya, Yana Sonjaya menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan webinar ini. Ia menegaskan bahwa materi tentang citra diri profesional sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Menurutnya, perguruan tinggi vokasi maupun kampus berbasis bisnis dan administrasi perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan non-akademik yang aplikatif, termasuk kemampuan mengelola citra diri dan jejak digital secara profesional.
Yana menambahkan, dunia kerja tidak lagi hanya melihat indeks prestasi atau ijazah, tetapi juga bagaimana lulusan mampu membawa diri, berkomunikasi, serta menunjukkan profesionalisme di berbagai platform, termasuk media sosial. Karena itu, ia berharap webinar ini menjadi momentum bagi mahasiswa dan peserta untuk mulai lebih serius membangun citra profesional sejak duduk di bangku kuliah.
Tren Rekrutmen di Era Digital
Narasumber utama, Lina Wiyarsih, menjelaskan bahwa tren rekrutmen di era digital telah bergeser secara signifikan. Perusahaan kini tidak hanya membaca CV dan melihat nilai akademik, tetapi juga menelusuri profil media sosial kandidat untuk memahami kepribadian, cara berkomunikasi, nilai yang dianut, dan sejauh mana sikap profesional tercermin dalam aktivitas digital mereka.
Pertanyaan pemantik, “Kalau HRD buka Instagram kita sekarang, kita pede atau panik?”, menjadi titik masuk diskusi yang kuat. Lina menjelaskan bahwa reaksi “pede atau panik” adalah cermin kesesuaian antara citra profesional yang ingin dibangun dengan realitas jejak digital yang sudah tampil ke publik. Jika merasa percaya diri, berarti konten dan interaksi sudah relatif selaras dengan standar profesional; jika panik, itu pertanda masih ada hal yang perlu dibereskan dalam pengelolaan identitas digital.
Persoalan Struktural di Pasar Kerja Indonesia
Webinar ini juga menyinggung persoalan struktural di pasar kerja Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengangguran mencapai 7,28 juta orang, dengan sekitar 3,6 juta di antaranya adalah pemuda, termasuk 1,01 juta lulusan perguruan tinggi. Hampir 50 persen penganggur nasional merupakan anak muda, yang seharusnya berada pada usia paling produktif. Kondisi ini menegaskan bahwa persaingan kerja sangat ketat dan tidak dapat dihadapi hanya dengan mengandalkan gelar akademik saja.
Lima Aspek Penting dalam Membangun Citra Diri Profesional
Lina menekankan bahwa citra diri profesional terbentuk dari lima aspek penting yaitu sikap, cara berkomunikasi, penampilan, etika kerja, dan rekam jejak digital. Sikap disiplin, bertanggung jawab, dan terbuka terhadap masukan menjadi fondasi utama. Selanjutnya, cara berkomunikasi baik lisan maupun tulisan mencerminkan kedewasaan dan kemampuan bekerja sama. Penampilan yang rapi dan sesuai konteks kerja memperkuat kesan serius dan dapat dipercaya.
Etika kerja, seperti integritas, kejujuran, ketepatan waktu, serta komitmen menyelesaikan tugas, menjadi penilaian jangka panjang di mata atasan dan rekan kerja. Sementara itu, jejak digital di media sosial kini menjadi “CV kedua” yang bisa menguatkan atau justru merusak citra profesional seseorang. Unggahan provokatif, komentar kasar, atau konten yang tidak pantas berpotensi mengurangi peluang kerja, meskipun kandidat memiliki prestasi akademik yang baik.
Media Sosial sebagai Aset Karier
Di akhir sesi, Lina mengajak peserta untuk mulai melihat media sosial sebagai aset karier, bukan sekadar ruang ekspresi. Ia menegaskan bahwa di tengah persaingan kerja yang ketat, citra diri profesional bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kesiapan sikap, komunikasi, dan rekam jejak digital yang sehat akan menjadi pembeda penting di antara banyaknya pelamar kerja.
Untuk itu, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kombinasi kompetensi akademik dan citra diri profesional yang kuat, para mahasiswa akan memiliki daya saing lebih tinggi di dunia kerja yang dinamis di era digital saat ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar