
Penyebaran Chikungunya yang Meningkat di Seluruh Dunia
Hingga awal Desember 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencatat lebih dari 500.000 kasus chikungunya di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 300.000 kasus terjadi di wilayah Amerika. WHO menilai risiko infeksi virus chikungunya sebagai moderat di tingkat global.
Laporan WHO menyebutkan bahwa wabah chikungunya yang meluas di berbagai wilayah selama musim 2025, termasuk daerah dengan penularan yang sebelumnya rendah atau tidak ada sama sekali, menjadi alasan utama peningkatan risiko ini. Hal ini didorong oleh beberapa faktor seperti keberadaan vektor nyamuk Aedes yang kompeten, kekebalan populasi yang terbatas, kondisi lingkungan yang menguntungkan, dan peningkatan mobilitas manusia.
Gejala dan Dampak Jangka Panjang
Chikungunya tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis. Infeksi ini ditandai dengan gejala seperti demam mendadak, nyeri sendi yang parah, nyeri otot, sakit kepala, dan ruam. Nyeri sendi dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan dapat menyebabkan kecacatan yang berkepanjangan.
Dalam laporan terbaru, WHO mencatat hingga saat ini tahun ini, terdapat 502.264 kasus chikungunya di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 208.335 kasus dikonfirmasi, sedangkan 293.929 lainnya diduga terjadi di 41 negara dan wilayah. WHO juga melaporkan adanya 186 kematian akibat chikungunya.
Distribusi Kasus Berdasarkan Wilayah
Secara regional, Amerika memiliki jumlah kasus terbanyak, yaitu 291.451 kasus dan 141 kematian. Diikuti oleh Asia Tenggara dengan 115.985 kasus dan 0 kematian, Eropa dengan 56.986 kasus dan 43 kematian, Pasifik Barat dengan 34.035 kasus dan 2 kematian, Afrika dengan 2.211 kasus dan 0 kematian, serta Timur Tengah dengan 1.596 kasus dan 0 kematian.
Brasil menjadi negara dengan kontribusi terbesar dalam penyebaran chikungunya di wilayah Amerika. Negara ini menyumbang 84% dari semua kasus yang dilaporkan dan 82% dari kematian di wilayah tersebut. Dengan total 243.915 kasus dan 116 kematian.
Risiko pada Populasi Rentan
Meskipun tingkat kematian secara keseluruhan rendah dibandingkan dengan beberapa arbovirus lainnya, penyakit parah dan komplikasi dapat terjadi, terutama pada populasi rentan seperti bayi baru lahir, anak kecil, wanita hamil, lansia, dan individu dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya. Faktor-faktor seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular meningkatkan risiko komplikasi akibat chikungunya.
WHO menegaskan pentingnya pencegahan dan pengendalian penyebaran virus ini melalui upaya-upaya seperti pengendalian vektor, edukasi masyarakat, dan penguatan sistem kesehatan. Dengan peningkatan penyebaran chikungunya, langkah-langkah preventif menjadi semakin krusial untuk mengurangi dampak kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar