
Tiga Faktor Utama yang Menghambat Ekspor Produk Pertanian Indonesia
Dalam sebuah workshop yang diadakan di Yogyakarta, terungkap beberapa tantangan utama yang sering menghambat petani Indonesia dalam memenuhi standar kurasi ekspor. Workshop ini membahas berbagai isu yang berkaitan dengan komoditas pertanian lokal dan bagaimana meningkatkan daya saing produk-produk tersebut di pasar internasional.
Salah satu faktor utama yang muncul adalah 3K, yaitu Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas. Ketiga aspek ini menjadi pekerjaan rumah bagi pihak-pihak terkait untuk diperbaiki bersama-sama. Dengan adanya tiga faktor ini, para petani diharapkan dapat lebih siap dalam menghadapi persaingan global.
Peningkatan Komoditas Pertanian Lokal
Kementerian Pertanian (Kementan) RI melalui Upland Project berupaya mendorong komoditas pertanian lokal agar bisa menembus pasar internasional. Meski begitu, tantangan klasik masih menjadi penghalang utama bagi produk-produk petani dari berbagai daerah di tanah air untuk bersaing di luar negeri.
Project Manager Upland Kementan RI, Muhammad Ikhwan, menjelaskan bahwa selain masalah kualitas dan kuantitas, kontinuitas juga menjadi hal penting. "Rata-rata di Indonesia itu tantangannya 3K. Kalau kita masuk pasar ekspor, kita harus bisa menjamin keberlanjutan (kontinuitas). Kadang saat kita sudah MoU dengan mitra offtaker, diminta komitmen sekian ton, suplainya dari kita belum siap," ujarnya.
Pengaruh Kondisi Alam
Ikhwan juga menjelaskan bahwa faktor kontinuitas seringkali terganggu oleh kondisi alam yang tidak menentu. Contohnya, kondisi kemarau basah (La Nina) sepanjang tahun 2025 yang berdampak signifikan pada komoditas manggis di Lebak dan Subang.
"Karena hujan terus, bunganya rontok. Otomatis manggis tidak panen. Akhirnya saat harus memenuhi komitmen eksportir, itu jadi kendala tersendiri," cetusnya.
Meskipun menghadapi tantangan alam, Konsultan Upland Project, Dwi Kuswantoro, menyatakan bahwa keberhasilan tetap bisa dicatatkan oleh petani binaan Upland Project. Contohnya, komoditas Kopi Robusta dari Magelang, Jawa Tengah, berhasil diekspor sebanyak 17 ton ke Dubai, Uni Emirat Arab.
"Target komitmennya 60 ton, tapi baru terkirim 17 ton green bean. Karena posisi kemarau basah, produksi kopi ada penurunan cukup signifikan," jelasnya.
Selain kopi Magelang, komoditas lain yang sukses menembus pasar global antara lain bawang merah olahan dari Sumenep dan lada putih dari Purbalingga yang diekspor ke Jepang.
Pentingnya Pemetaan Pasar
Dalam kesempatan yang sama, Kurator Produk, Ira Damayanti, menyoroti pentingnya pemetaan pasar atau market mapping sebelum melakukan ekspor. Menurutnya, setiap negara memiliki preferensi berbeda. Misalnya, pasar Timur Tengah cenderung menyukai kopi Robusta dengan cita rasa kuat, sementara pasar Eropa dan Amerika lebih condong ke Arabika.
Tantangan lainnya adalah harga, di mana Indonesia harus bersaing ketat dengan Vietnam yang memiliki banderol produksi lebih murah karena skala produksi masif.
"Vietnam itu produsen nomor dua atau tiga dunia, sementara kita (Indonesia) nomor empat. Harga mereka lebih murah. Maka, kita harus punya added value," katanya.
Ira menambahkan bahwa "Tanah kita subur, volcanic soil. Ini mempengaruhi rasa. Kalau Vietnam mungkin tanahnya beda. Jadi branding yang kita jual adalah 'volcanic soil' yang memberikan cita rasa unik, bukan perang harga."
Wilayah Intervensi Upland Project
Sebagai informasi, Upland Project merupakan proyek bantuan luar negeri dari Islamic Development Bank (IsDB) dan IFAD yang menyasar pengembangan pertanian terpadu di 14 kabupaten di 7 provinsi. Wilayah intervensi mencakup Lebak, Tasikmalaya, Garut, Subang, Cirebon, Purbalingga, Banjarnegara, Magelang, Malang, Sumenep, hingga Gorontalo dan Minahasa Selatan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar