
Dewan Transisi Selatan (STC) Mengumumkan Konstitusi untuk Membentuk Negara Merdeka di Yaman Selatan
Pada Jumat (2/1/2026), kelompok separatis Yaman, Dewan Transisi Selatan (STC), mengumumkan pembuatan konstitusi yang akan menjadi dasar pembentukan sebuah negara merdeka di wilayah selatan Yaman. Pengumuman ini dinyatakan sebagai deklarasi kemerdekaan oleh STC, yang saat ini memegang kendali atas bagian selatan Yaman dan didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh pemimpin STC, Aidarous Al-Zubaid, konstitusi yang dibuat oleh kelompoknya akan berlaku selama dua tahun. Setelah masa tersebut, akan dilakukan referendum untuk memberikan hak kepada rakyat Yaman bagian selatan dalam menentukan nasib mereka sendiri.
Al-Zubaid menyatakan bahwa selama dua tahun, pihak-pihak terkait di Yaman utara dan selatan harus melakukan dialog untuk membahas "jalan dan mekanisme yang menjamin hak rakyat di Selatan." Ia juga menegaskan bahwa jika faksi-faksi lain tidak setuju dengan seruan STC atau mengambil tindakan militer, semua opsi tetap terbuka.
Konstitusi yang terdiri dari 30 pasal tersebut memproklamasikan pembentukan "Negara Arab Selatan." Wilayahnya mencakup area yang sama dengan bekas Republik Demokratik Rakyat Yaman, yaitu negara merdeka yang berdiri dari tahun 1967 hingga 1990. Ini dianggap sebagai langkah paling nyata yang dilakukan STC sejauh ini untuk mewujudkan tujuan kemerdekaan yang telah lama mereka klaim.
Namun, di tengah kebingungan yang melanda wilayah selatan beberapa pekan terakhir, dampak praktis dari deklarasi ini belum jelas. Meskipun demikian, pengumuman ini dinilai dapat menghambat upaya-upaya mencegah konflik terbuka antara kelompok separatis dan koalisi pimpinan Arab Saudi lainnya.
Sebelumnya, STC telah merebut dua kegubernuran di Yaman Selatan, yaitu Hadramaut dan Al-Mahra pada bulan lalu. Saat merebut dua wilayah tersebut, STC dilaporkan mengusir pasukan yang berafiliasi dengan Pasukan Perisai Nasional, yang didukung oleh Arab Saudi. Perseteruan ini menyebabkan ketegangan hubungan antara UEA dan Arab Saudi.
Mengenai deklarasi STC, Kementerian Luar Negeri UEA dalam sebuah pernyataan menyatakan bahwa pihaknya sedang menangani situasi tersebut. Mereka mengatakan bahwa penanganan situasi tersebut dilakukan "dengan menahan diri, berkoordinasi, dan komitmen yang disengaja untuk de-eskalasi, dipandu oleh kebijakan luar negeri yang secara konsisten memprioritaskan stabilitas regional daripada tindakan impulsif."
Sementara itu, Kementerian Pertahanan UEA pada Sabtu (3/1/2026) mengatakan bahwa penarikan pasukan dari Yaman telah selesai. Mereka tidak memberikan rincian jumlah tentara dan peralatan yang dipindahkan, tetapi telah terjadi penerbangan kargo militer UEA yang masuk dan keluar dari Yaman dalam beberapa hari terakhir.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar