Zaman Pahlevi di Iran: Perempuan lepas hijab, raja berjas

GELOMBANG unjuk rasa besar-besaran melanda puluhan kota di Iran. Rakyat marah dengan kepemimpinan teokratis di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam protes Iran terbesar yang berlangsung dua pekan ini, ribuan warga turun ke jalan. Mereka meneriakkan slogan-slogan dan berbaris di jalan-jalan. Putra mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi, turut menyemangati warga Iran.

Dalam video yang dibagikan oleh para aktivis di media sosial, menunjukkan para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah Iran di sekitar api unggun. Yang lain memuji Putra Mahkota Reza Pahlavi yang diasingkan, sambil berteriak, "Ini pertempuran terakhir! Pahlavi akan kembali!"

Putra dari syah terakhir Iran, yang digulingkan oleh Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi yang berbasis di AS, telah menyerukan agar warga Iran turun ke jalan dalam jumlah besar untuk melawan rezim Islam di negara tersebut.

Sebelum Revolusi, Iran Diperintah Dinasti Pahlavi

Dilansir dari NDTV, dinasti Pahlavi memerintah Iran antara 1925 dan 1979, sebelum monarki digulingkan selama Revolusi Iran, yang mengarah pada pembentukan Republik Islam. Saat pemerintahan Pahlavi, Iran diperintah oleh raja-raja yang mengenakan setelan Barat. Mereka memimpin industrialisasi negara Timur Tengah tersebut. Pada masa itu, para sejarawan mengatakan bahwa ibu kota Iran, Teheran, begitu bebas dan glamor sehingga disebut 'Paris Timur Tengah.' Alih-alih berhijab, perempuan berjalan di jalanan mengenakan rok pendek dan modis.

Namun, di balik fasad itu tersembunyi pemerintahan tangan besi Shah dan korupsi kronis yang menguntungkan kekuatan Barat. Represi tersebut menyebabkan raja digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Mohammad Reza Shah Pahlavi, ayah Pahlavi, adalah Shah terakhir Iran sebelum pergi ke pengasingan.

Dinasti Pahlavi lahir bukan dari darah bangsawan, melainkan di medan perang. Reza Khan, seorang perwira militer dari keluarga sederhana, naik pangkat di Brigade Cossack Persia Iran, yang dibentuk pada tahun 1879 di bawah bimbingan Rusia. Pada tahun 1921, ia memimpin kudeta dengan bantuan perwira Inggris yang khawatir akan pengaruh Soviet di Iran.

Pada 1925, dinasti Qajar digulingkan, dan Reza Khan "dipilih" oleh Majlis, sebuah dewan Islam Arab, untuk menjadi Shah berikutnya. Ia mengadopsi nama Pahlavi untuk menghormati seorang penguasa Persia abad pertengahan, meluncurkan monarki baru dengan ambisi modernisasi dan nasionalisme sekuler.

Plus Minus Sistem Monarki Iran

Reza Shah memprakarsai reformasi besar-besaran seperti pendidikan dan aturan berpakaian ala Barat. Ia melarang penggunaan cadar bagi perempuan di tempat umum, mendirikan bank nasional, sistem kereta api, dan negara pusat yang kuat, serta membatasi pengaruh ulama di pengadilan dan sekolah.

Namun pemerintahannya juga otokratis. Perbedaan pendapat politik ditumpas, dan pers bebas dibungkam. Meskipun demikian, banyak yang menganggapnya sebagai bapak Iran modern. Tetapi Perang Dunia II mengubah segalanya.

Pada 1941, sekutu Iran sendiri menginvasi negara itu karena takut akan kedekatan Reza Shah dengan Nazi Jerman. Pasukan Inggris dan Soviet memaksanya untuk turun takhta demi putranya, Mohammad Reza Pahlavi yang berusia 22 tahun.

Shah muda mewarisi takhta yang rapuh, negara yang terpecah belah, dan sentimen nasionalis yang berkembang. Selama dekade berikutnya, minyak Iran, yang dikendalikan oleh Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) milik Inggris, menjadi sumber kebencian yang mendalam. Hal ini menyebabkan titik balik pada 1951, ketika parlemen Iran memilih Mohammad Mosaddegh sebagai perdana menteri.

Sebagai seorang nasionalis yang gigih, Mosaddegh menasionalisasi industri minyak Iran, secara langsung menantang kendali Inggris. Hal ini membuat marah warga Inggris dan Amerika, yang khawatir Iran akan condong ke Uni Soviet.

Pada 1953, Badan Intelijen Pusat Amerika (CIA) mengatur Operasi Ajax, sebuah kudeta yang menggulingkan Mosaddegh dan mengembalikan Mohammad Reza Pahlavi dengan kendali penuh. Ini menandai awal monarki absolut di bawah keluarga Pahlavi dan juga dominasi AS dalam urusan Iran.

Shah bukan lagi sekadar raja. Ia adalah utusan Amerika di Teheran. Pada 1960-an, Mohammad Reza Shah meluncurkan Revolusi Putih, serangkaian reformasi dari atas ke bawah yang bertujuan untuk memodernisasi Iran, seperti redistribusi lahan untuk melemahkan tuan tanah feodal, hak pilih perempuan, program pemberantasan buta huruf dan kesehatan untuk daerah pedesaan, industrialisasi, dan pembangunan militer. Iran mengalami pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, dan peningkatan kelas menengah.

Bibit Revolusi Mulai Tumbuh

Budaya Barat menyebar dengan cepat, dari mode hingga film. Namun di balik permukaan, para ulama merasa terasingkan oleh sekularisme. Para migran dari pedesaan membanjiri kota-kota tanpa pekerjaan.

Partai-partai politik dilarang, dan SAVAK, polisi rahasia Shah, membungkam perbedaan pendapat dengan penyiksaan dan rasa takut. Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang saat itu masih seorang ulama yang relatif tidak dikenal, mengutuk westernisasi yang dilakukan Shah dan diasingkan pada tahun 1964.

Namun, benih revolusi telah ditanam. Inflasi yang meningkat, ketidaksetaraan, pemerintahan otoriter, dan meningkatnya penentangan agama memuncak dalam protes massal pada tahun 1978. Terlepas dari kekuatan militernya yang besar, Shah ragu untuk menggunakan kekuatan penuh.

Pada Januari 1979, raja yang dulunya perkasa itu telah melarikan diri dari Iran, dan tidak pernah kembali. Pada 1 Februari 1979, Ayatollah Khomeini kembali dari pengasingan dan disambut bak pahlawan. Dalam beberapa minggu, monarki Pahlavi dibubarkan. Iran menjadi republik Islam di bawah pemerintahan ulama. Mohammad Reza Shah meninggal dalam pengasingan di Mesir pada tahun 1980, meninggalkan warisan yang kompleks.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan