
Kerangka Kerja Baru Ukraina untuk Perdamaian dengan Rusia
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah menyampaikan kerangka kerja baru yang terdiri dari 20 poin kepada Amerika Serikat sebagai usulan penyelesaian perang dengan Rusia. Namun, isu teritorial masih menjadi hambatan utama dalam negosiasi yang sedang berlangsung.
Dalam wawancaranya di Kyiv, Zelensky menjelaskan bahwa AS menawarkan kompromi berupa pembentukan "zona ekonomi bebas" di wilayah Donbas bagian timur yang saat ini masih berada di bawah kendali Ukraina. Wilayah tersebut merupakan area yang diminta oleh Rusia sebagai bagian dari perjanjian damai. Ia menyebutkan bahwa pihak Rusia melihat situasi ini sebagai mundurnya pasukan Ukraina dari wilayah Donetsk, sementara komprominya adalah pasukan Rusia tidak akan memasuki wilayah tersebut. Akan tetapi, mereka belum mengetahui siapa yang akan mengatur wilayah tersebut.
Zelensky menekankan bahwa keputusan apa pun mengenai penyerahan wilayah harus ditentukan melalui referendum nasional oleh rakyat Ukraina. Hal ini menjadi penting karena belum ada titik temu terkait isu teritorial. Upaya diplomasi kilat dilakukan oleh Kyiv untuk mengimbangi versi awal rencana 28 poin yang disusun AS, yang sebelumnya dinilai terlalu menguntungkan Rusia.
Dalam kerangka kerja baru tersebut, pembahasan turut mencakup kemungkinan penarikan pasukan Rusia dari sejumlah sektor kecil di wilayah timur laut, seperti beberapa bagian Kharkiv, Sumy, serta sebagian wilayah Dnipropetrovsk. Sementara itu, garis kontak di wilayah selatan yang sebagian diduduki, yaitu Zaporizhzhia dan Kherson, direncanakan akan dibekukan pada posisi saat ini.
Usulan Pengelolaan Bersama PLTN Zaporizhzhia
Washington juga mengusulkan skema pengelolaan bersama terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, fasilitas nuklir terbesar di Eropa yang kini masih dikuasai Rusia. Meski begitu, Moskow hingga kini menolak melepaskan kontrol penuh atas instalasi strategis tersebut.
Desakan damai meningkat seiring tekanan medan perang. Ukraina diketahui berada dalam tekanan kuat dari AS untuk mempercepat kesepakatan damai. Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi dan terus menekan garis depan.
Menanggapi laporan bahwa Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat Natal agar Ukraina menerima proposal damai, Zelensky membantah adanya batas waktu resmi. Ia menyatakan bahwa pihak AS mungkin masih ingin memahami posisi Ukraina terkait perjanjian ini sebelum Natal.
Selain kerangka kerja 20 poin, rencana damai yang lebih luas akan memuat dokumen terpisah yang mengatur jaminan keamanan, untuk mencegah Rusia menyerang kembali, serta rencana rekonstruksi kota-kota Ukraina yang hancur akibat perang berkepanjangan.
Kyiv menegaskan bahwa setiap bentuk jaminan keamanan harus disahkan oleh parlemen, mengingat Ukraina merasa pernah dikecewakan oleh jaminan-jaminan sebelumnya dari negara-negara sekutu. Zelensky juga mengatakan bahwa ia telah melakukan pembahasan mendalam terkait jaminan keamanan tersebut bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff.
Kekuatan Militer Ukraina Pasca-Perang
Kyiv menegaskan keinginan untuk mempertahankan kekuatan militer besar setelah perang berakhir. Dalam draf terbaru yang sedang dibahas, jumlah personel militer Ukraina ditetapkan sebesar 800.000 pasukan, lebih tinggi dari usulan awal yang pernah ditawarkan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar