Konflik Internal NU Memuncak, Jabatan Ketua Umum Diisi oleh Penjabat

Pembicaraan dan musyawarah antar pihak di dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tidak berhasil menyelesaikan konflik yang terjadi. Akhirnya, posisi ketua umum PBNU diisi oleh seorang penjabat. Ini menunjukkan bahwa keputusan untuk “mengganti” Gus Yahya Cholil Staquf sebagai ketua umum telah final.
Penjabat ketua umum tersebut adalah KH Zulfa Mustofa, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua umum. Dalam daftar wakil ketua umum, Kiai Zulfa berada di urutan pertama. Keputusan ini diambil oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang memiliki otoritas besar dalam pengambilan keputusan di PBNU. Namun, Kiai Akhyar jarang tampil secara langsung dalam acara resmi, sering kali mewakilkan perannya kepada Prof Dr Mohammad Nuh DEA, wakilnya di syuriah.
Konflik di NU sudah sampai pada titik tertentu, karena para pengurus di PBNU tampaknya menerima putusan dari Rais Aam. Jika para wakil ketua umum tidak mau diangkat menjadi penjabat ketua umum, atau bahkan memilih mundur dari kepengurusan, konflik akan semakin memanas. Namun, hingga saat ini, belum ada pengurus PBNU yang menyatakan mundur. Artinya, mereka bisa menerima kepemimpinan penjabat ketua umum, yaitu Kiai Zulfa Mustofa.
Mengapa Tidak Pilih Jalan Islah?
Menurut Prof Mohammad Nuh, ketua dewan syuriah NU, islah hanya bisa terjadi jika ada sengketa antarpihak. Namun, dalam kasus ini, tidak ada sengketa, melainkan sanksi. Gus Yahya diberhentikan sebagai ketua umum sebagai bentuk sanksi, dengan alasan kesalahan yang dianggap cukup berat untuk mengakhiri jabatannya. Meski detail kesalahannya belum diketahui, rumor tentang isu Israel dan tambang batu bara sempat muncul.
Prof Nuh menjelaskan bahwa Rais Aam pernah bertemu secara khusus dengan Gus Yahya pada 17 November 2025, dan sekali lagi dua hari setelahnya. Keduanya hanya berdua dalam pertemuan tersebut. Dua hingga tiga hari kemudian, keputusan untuk memberhentikan Gus Yahya diumumkan.
Gus Yahya tidak mungkin menerima keputusan itu karena ia merasa bahwa muktamar seharusnya menjadi tempat untuk memutuskan hal-hal penting seperti ini. Namun, ia tidak bisa melawan keputusan tersebut karena Sekretaris Jenderal PBNU masih dipegang oleh Gus Ipul –Saifullah Yusuf, yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial. Prof Nuh juga merupakan anggota penting dalam tim yang bertugas membangun Sekolah Rakyat untuk anak-anak miskin di desa-desa.
Langkah Gus Yahya yang Dinilai Mbalelo
Karena merasa sebagai ketua umum, Gus Yahya memberhentikan Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU dan mengangkat Dra Amin Said Husni, mantan bupati Bondowoso, sebagai Sekjen baru. Langkah ini dinilai sebagai tindakan yang mbalelo terhadap keputusan Rais Aam Syuriah. Akibatnya, dilakukanlah sidang pleno Syuriah –tanfidiyah PBNU, yang digelar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta. Menteri Agama KH Prof Nasaruddin Umar disebut hadir dalam sidang tersebut, menandakan arah dari konflik ini.
Dalam sidang tersebut, diputuskan bahwa KH Zulfa Mustofa akan diangkat sebagai penjabat ketua umum PBNU. Kiai Zulfa sendiri menyatakan siap memimpin NU, dan dalam pidato penerimaan jabatannya, ia menyebut dirinya sebagai "Al Fakir" yang mendapat amanah memimpin NU.
Profil Kiai Zulfa Mustofa
Nama Kiai Zulfa Mustofa mungkin masih asing bagi sebagian publik, kecuali selama enam bulan terakhir. Ia menjadi lebih dikenal karena ceramah-ceramahnya yang viral di media sosial. Salah satu contohnya adalah saat ia melantunkan salawat Nabi dalam berbagai irama, seperti lagu India Kuch Kuch Hota Hai, lagu Sunda Manuk Dadali, dan irama lagu Melayu Fatwa Pujangga. Bahkan, ia juga bisa melantunkan salawat dalam irama lagu Mandarin yang populer, Nán Ér Dāng Zì Qiáng.
Kiai Zulfa juga sering berbicara di forum Muhammadiyah, dan ia berharap tidak ada kesalahpahaman antara NU dan Muhammadiyah. Ia mengatakan bahwa orang NU harus mendukung pembangunan rumah sakit oleh Muhammadiyah, sementara orang NU bisa membantu dengan cara menjadi pasien.
Kepemimpinan yang Berbeda
Kiai Zulfa dikenal sebagai tokoh yang mempromosikan moderasi, mirip dengan ketua umum PBNU sebelumnya, Prof Dr KH Said Aqil Sirodj. Ia memiliki kelebihan dalam penguasaan ilmu agama dan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Humor-humor yang ia gunakan bersifat khas orang kecil, jauh dari sikap elitis.
Selain itu, Kiai Zulfa masih keponakan dari KH Ma’ruf Amin, mantan Rais Aam dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Ia juga kerabat ulama besar masa lalu, seperti Kiai Nawawi Al Bantani dari Banten, serta menantu dari kiai penting di Tegal.
Tantangan Berikutnya
Langkah berikutnya adalah meminta pengesahan dari pemerintah, khususnya Menteri Hukum. Setelah mendapatkan pengesahan, Kiai Zulfa bisa berkantor di gedung PBNU sembilan lantai di Jalan Kramat Raya Jakarta.
Tantangan terberat yang dihadapi adalah menentukan mitra untuk mengelola tambang batu bara milik NU di Bontang seluas 25.000 hektare. Masih ada potensi konflik yang bisa muncul.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar